GEREJA KATOLIK ENSIKLOPEDI

Sejarah Gerejawi

Sejarah Gerejawi


Karakter dan Fungsi


Sejarah Gerejawi adalah berdasarkan penyelidikan ilmiah, deskripsi metodis tentang perkembangan temporal Gereja, sebagai Lembaga yang didirikan oleh Yesus Kristus, serta dari bimbingan Roh Kudus, untuk keselamatan seluruh umat manusia.
Pada awalnya, Subyek sejarah adalah manusia, karena oleh perubahan eksternal dalam hidupnya, erat mempengaruhi kepentingan intelektualnya, maka secara umum mengalami perubahan terhadap segala sesuatu dalam keberadaannya (ruang dan waktu) dan secara khusus pengembangan genetik dialami dari peristiwa dalam sejarah. Obyek sejarah adalah pengembangan genetik dari pikiran manusia dalam kehidupan manusia itu sendiri dalam berbagai aspek yang datang dalam serangkaian fakta, berhubungan dengan individu atau seluruh umat manusia atau dari berbagai kelompok. Secara Subyektif, sejarah adalah apersepsi dan deskripsi perngembangan, yang dalam arti ilmiah: pemahaman dari penetapan yang sama dengan cara metodis dan sistematis.
Sejarah umat manusia ada banyak bagian. Kehidupan manusia memiliki aspek atau sisi. Bentuk yang paling mulia adalah Sejarah Agama, seperti pertumbuhan di masa lampau di antara kelompok berbeda menunjukkan bahwa agama yang benar harus didasarkan oleh Pengetahuan Yang Benar dan Ibadah Yang Tepat Dari Satu Allah - Rahmat Cahaya Wahyu Ilahi. Agama Katolik khususnya, tergambar dari: Wujud Gereja Katolik. Sejarah Kristen, atau lebih tepat Sejarah Gereja Katolik, yang terpenting adalah didikan, dalam berbagai bagian sejarah agama. Selain itu sejarah asosiasi keagamaan yaitu moral, hidup berkarakter bersosial.
Terlebih Gereja Katolik, setiap agama secara alami mempunyai tujuan dan dalam berbagai bentuk organisasi. Ada tiga tahap dalam pembentukan asosiasi keagamaan:
  1. Asosiasi keagamaan, dalam hal ini mereka yang belum memiliki pengetahuan yang benar, tentang hanya ada Satu Allah yang benar, di antara mereka memiliki banyak ilah. Dan agama yang berhimpitan dengan kebangsaan, tidak independen. Asosiasi keagamaan berhubungan erat atau lebih tepatnya yang sepenuhnya terikat dengan ketertiban sipil pada akhirnya adalah: partikularistik.
  2. Komunitas keagamaan Yahudi, ini juga masih berkaitan erat dengan pemerintah teokratis orang-orang Yahudi: partikularistik, terbatas pada satu bangsa. Walau masih termasuk kustodian Pewahyuan Ilahi.
  3. Kristen, yang berisi penuh/lengkap Wahyu Ilahi, yang dikenal sebagai umat dengan Anak Allah di dalamnya, bentuk asli dari apa yang ada dalam Yudaisme direalisasikan. Bersifat universal, yang ditujukan untuk semua bangsa. Gereja Katolik secara mendalam, beda dari semua organisasi agama. Menjalankan semangat Cinta Universal sebagai prinsip tertinggi, menembus dan memahami kehidupan seluruh spiritualitas bangsa. Kultus adalah bentuk sublimest dan termurni Ibadah Ilahi. Dalam segala hal independen antar semua asosiasi manusia.
Catatan Sejarah Kristen dalam arti luas, ada dalam penciptaan manusia, dikarenakan Wahyu Ilahi dibuat untuk Dia sejak awal. Karena Kristus yang adalah Pendiri agama; Sempurna, yang berasal dari Nya, NamaNya, Yang Dia dirikan sebagai Asosiasi Universal/Katolik, independen dan milik umum, keinginan luhur dari seluruh umat manusia. Sejarah Kristen, mungkin lebih alami, karena diambil dari sejak Kehidupan Anak Allah dalam dunia. Sejarawan harus juga menjangkau di masa sebelum Nya, periode penting sejauh Mereka (Para Rasul) menyiapkan umat manusia untuk Kedatangan Kristus dan merupakan penjelasan penting dari faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Sejarah Kristen.
Bentuk eksternal Sejarah Kristen dipandang sebagai asosiasi keagamaan umat manusia yang percaya pada Kristus; adalah Gereja sebagai Lembaga Yang Anak Allah dirikan - direalisasikan di bumi - hal Pengudusan manusia dan Kerajaan Allah. Gereja memiliki elemen ganda: Tuhan dan manusia. Unsur Ilahi terdiri dari semua Kebenaran Iman, yang Pendiri dipercayakan kepada Nya, PerundanganNya dan prinsip-prinsip dasar organisasi sebagai Lembaga yang ditujukan untuk membimbing umat beriman, praktek Ibadah Ilahi dan Perwalian dari semua Sarana, dimana manusia menerima dan menopang hidupnya dalam spiritualitas. Unsur manusia dalam Gereja muncul dengan cara dimana Unsur Ilahi memanifestasikan Diri dengan bekerjasama dari kehendak bebas manusia, dibawah pengaruh faktor duniawi. Unsur Ilahi tidak bisa diubah dan tidak termasuk dalam ruang lingkup sejarah, unsur manusia di sisi lain mengembangkan Subyek, karena itu Gereja memiliki Sejarah. Perubahan muncul pertama-tama dengan dasar perpanjangan Anggota Tubuh Gereja di seluruh dunia sejak Berdiri. Selama ekspansi ini, berbagai pengaruh pengungkapan Diri, sebagian dari dalam Gereja dan sebagian dari luar, tantangan dari perluasan Kristen, ada yang terhalang maupun berkelanjutan. Kehidupan batin dari agama Kristen dipengaruhi oleh berbagai faktor; kesungguhan moral misalnya dan realisasi khidmat tujuan dari Gereja dan pengkabaran pencapaian Kepentingan-Nya, adalah bagian dari orang Kristen. Di sisi lain, ketika semangat duniawi dan standar rendah moralitas menginfeksi, banyak anggota menghambat Pelayanan Kudus Gereja. Walaupun demikian, Ajaran Gereja seperti isi Material tidah berubah, tetap sebagai Pewahyuan Rohani dan ruang masih ada dalam pembangunan formal, kewaspadaan ilmiah dan penjelasan dari nalar kita. Perkembangan Hirarki Gerejawi dan Konstitusi Ibadah Gereja, Perundangan dan disiplin yang mengatur hubungan antar anggota Gereja dan menjaga ketertiban tidak menawarkan beberapa perubahan, merupakan tepat Subyek penyelidikan sejarah.
Kita sekarang dalam posisi memahami ruang lingkup Sejarah Gerejawi, terdiri dalam penyelidikan ilmiah dan pelayanan metodis Kehidupan Gereja dalam segala manifestasi dari Awal KeberadaanNya, di antara berbagai bagian umat manusia yang telah dicapai oleh Kristen sampai sekarang. Karakter Gereja tetap/sama dan perubahan yang dialami dari waktu ke waktu; perubahan yang membantu menumjukan menjadi lebih lengkap Kehidupan Gereja internal dan eksternal. Adapun yang kedua, Sejarah Gerejawi menjadi diketahui secara rinci ekspansi lokal dan temporal dan pembatasan Gereja di berbagai negara, serta menunjukkan faktor yang mempengaruhi (History of Missions, dalam arti luas), juga sikap di masing negara atau badan politik dan asosiasi keagamaan lain menanggapi Arah Nya (Sejarah Ecclesiastical Polity, dari Heresies dan Sanggahan mereka dan hubungan Gereja dengan asosiasi agama Non-Katolik). Jika kita beralih ke internal Kehidupan Gereja, memperlakukan sejarah pengembangan Pengajaran Gerejawi berdasar iman dari kumpulan Rohani Murni (History of Dogma, dari Ecclesiastical Teologi dan Ecclesiastical Sciences pada umumnya), pengembangan Gerejawi di berbagai bentuk Peribadatan (Sejarah Liturgi), pemanfaatan seni dalam Pelayanan Gereja, berhubungan, tertutama dalam Ibadat (Ecclesiastical History of Art), bentuk Pemerintahan Gerejawi dan pelaksanaan fungsi-fungsi Gerejawi (Sejarah dari Hirarki, Konstitusi dan Hukum Gereja) dari berbagai cara menumbuhkan kepada kehidupan religius Yang Sempurna (Sejarah Agama Orders), manifestasi kehidupan beragama dan sentimen dikalangan masyarakat dan aturan disiplin dimana moralitas Kristen dibudidayakan dan dilestarikan dan dikuduskan dalam iman (Disiplin Sejarah, Kehidupan Keagamaan, Christian Civilization).

Metode dan Karakteristik


Sejarawan Gerejawi harus menerapkan prinsip-prinsip dan aturan umum dari metode historis, secara keseluruhan harus diterima nilai yang tepat, yaitu semua fakta yang telah terbukti. Dasar dari semua ilmu sejarah adalah pembentukan fakta. Sejarawan Gerejawi akan mencapai hal ini dengan pengetahuan penuh dan kritis terhadap sumber. Obyektif, wajar dan interpretasi berisikan sumber yang didasari hukum kritik adalah prinsip utama metode sebenarnya Sejarah Gerejawi. Instruksi sistematis dalam bidang ini diperoleh melalui ilmu sejarah: paleografi, kepandaian diplomatik dan kritik.
Kedua, dalam membahas fakta-fakta Sejarah Gerejawi dipastikan harus dijelaskan hubungan sebab akibat dalam peristiwa. Hal ini tidak cukup hanya membangun serangkaian peristiwa tertentu dalam menampilkan tujuan mereka; sejarawan terikat juga memaparkan penyebab dan efek. Tidak cukup dengan pertimbangan faktor-faktor yang terletak di permukaan dan direferensikan oleh peristiwa itu seolah penyebabnya sebagian saja, tetapi lebih dalam dan nyata harus dibawa kepada: Terang. Seperti dalam dunia fisik tidak ada efek tanpa sebab yang memadai, demikian juga dalam dunia spiritualitas dan moral; setiap fenomena memiliki sebab tertentu dan pada gilirannya mengakibatkan fenomena lain. Dalam dunia etika dan agama, fakta adalah realisasi konkret atau hasil dari ide-ide spiritualitas tertentu dan kekuatan, tidak hanya dalam kehidupan individu tetapi juga dalam kelompok dan asosiasi. Individu dan kelompok tanpa kecuali adalah anggota dari satu ras manusia, diciptakan untuk tujuan luhur melampaui kehidupan fana. Dengan demikian aksi individu memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan seluruh umat manusia dan nyata dengan cara khusus dari kehidupan beragama. Karena itu Sejarah Gereja harus memberi kita wawasan tentang kehidupan moral dan agama, terhampar jelas di depan kita perkembangan ide-ide aktif di dalamnya, seperti yang muncul baik dalam individu ataupun kelompok. Untuk menemukan sebab, sepenuhnya benar-benar ditentukan oleh peristiwa itu, sejarawan harus memperhitungkan semua kekuatan yang mau dalam menginformasikannya. Hal ini terutama berlaku dari kehendak bebas manusia, pertimbangan sangat penting dalam pembentukan penilaian fenomena etis. Bahwa pengaruh individual diberikan untuk pertumbuhan dan keseluruhan Tubuh harus dihargai dengan benar, juga ide-ide dalam agama, sosial, politik, lingkungan dan yang selalu bertahan di dalam masyarakat harus juga dihargai, karena mereka membantu, sedangkan dalam aturan jelas ditentukan tindakan sukarela dari individu. Sehingga persiapan jalan bagi karya manusia sangat ditonjolkan, dengan demikian memungkinkan pengaruh individu kepada seluruh ras. Oleh karena itu, Sejarah Gereja ilmiah, harus mempertimbangkan baik individu maupun faktor-faktor umum dalam pemeriksaan atas hubungan genetik dari fenomena luar, pada saat yang sama tidak pernah kehilangan pandangan dari kebebasan kehendak manusia. Sejarawan Gerejawi apalagi, tidak bisa mengesampingkan faktor rohani bahwa Allah turut dalam proses alam dan mukjizat merupakan asumsi yang dapat dibuktikan, yang membuat apresiasi benar dari fakta-fakta dalam realitas objektifitas yang mustahil. Disinilah muncul perbedaan antara sudut pandang sejarawan Kristen percaya, siapa yang terkandung dalam pikiran, tidak hanya Keberadaan Allah, Tuhan, tetapi juga berhubungan dengan makhlukNya dan bahwa dari rasionalistik dari sejarawan yang tidak percaya yang menolak bahkan bisa mengintervensi Ilahi di dalam perjalanan hukum alam. Perbedaan yang sama, prinsip munculnya apresiasi teleologis dari beberapa fenomena serta hubungan kausal.
Kepercayaan sejarawan Gerejawi, tidak hanya mewujudkan fakta dan memastikan hubungan internal sebab akibat, ia juga memperkirakan nilai dan pentingnya peristiwa dalam hubungannya dengan obyek Gereja: yang bertujuan Kristus, prioritas diberikan untuk mewujudkan iktisad Ilahi, yang adalah keselamatan bagi individu maupun bagi seluruh ras dan kelompok. Cita-cita ini bagaimanapun tidak dikejar dengan intensitas yang sama sepanjang waktu. Penyebab eksternal seringkali memiliki pengaruh besar. Dalam penilaian dalam peristiwa, sejarawan Kristen tetap dalam pandangan bahwa fakta: Pendiri Gereja adalah Anak Allah dan bahwa Gereja di-Lembagakan oleh Nya untuk berkomunikasi ke seluruh umat manusia dengan bantuan Roh Kudus dan Keselamatan melalui Kristus. Hal ini dari sudut pandang sejarawan Kristen menunjukan bahwa semua peristiwa tertentu berhubungan dengan Akhir Tujuan Gereja. Kepercayaan sejarawan di sisi lain mengakui hanya kekuatan alam, baik asal maupun seluruh perkembangan Kristen dan menolak kemungkinan intervensi Rohani tidak mampu menghargai Pekerjaan Gereja sejauh itu adalah Alat Rencana Ilahi.
Pertimbangan di atas memungkinkan kita juga memahami dalam arti apa Sejarah Gerejawi harus pragmatis. Sejarawan Gereja Pertama berlaku pragmatisme, Filsafat yang menelusuri asal usul peristiwa dari sudut pandang alami dalam Filsafat Sejarah Terang dan mencoba untuk menemukan ide-ide yang mendasari atau yang terkandung di dalam Nya. Ini harus ditambahkan pragmatisme teologis yang mengambil sikap teguh pada Kebenaran Yang di-Wahyukan secara Rohani dan berusaha untuk mengenali Alat Allah dan PemeliharaanNya, dengan demikian mencari (sejauh mungkin bagi pikiran dibuat, yang dipimpin Roh Kudus) Tujuan Kekal Allah memanifestasikan Diri dalam waktu. Sejarawan Katolik menekankan pada karakter rohani dari Gereja, doktrin-doktrin, lembaga dan standar hidup, sejauh mereka beristirahat dalam Wahyu Ilahi dan mengakui bimbingan Gereja dari Roh Kudus yang berkesinambungan. Semua ini untuk Dia, realitas Objektif, kebenaran tertentu dan dasar yang benar pragmatisme ilmiah Sejarah Gerejawi. Pandangan ini tidak menghalangi atau melemahkan, melainkan membimbing dan menegaskan pemahaman sejarah kejadian alam, serta penyelidikan kritis sejati mereka dan pelayanan. Hal ini termasuk pengakuan penuh dan penggunaan metode ilmiah historis. Sebagai fakta sejarah, penampilan Gereja adalah yang paling jelas, bimbingan khusus dan Rencana Tuhan.
Salah satu ajaran iman Para Rasul dan Bapa Gereja Perdana yang terus diwartakan oleh Gereja Katolik adalah bahwa Kristus dan Gereja Katolik adalah Satu, Tak Terpisahkan. Hubungan Kristus dan Gereja Katolik dilukiskan dalam dua hal:
  1. Hubungan Kepala dan Tubuh, dimana Kristus adalah Kepala dan Gereja Katolik adalah Tubuh MistikNya.
  2. Sama dengan Perkawinan: Satu; Tak Terceraikan dan Gereja Katolik adalah Mempelai Kristus.
Kutipan surat St. Ignatius dari Antiokia kepada umat di Smyrna mengenai kesatuan Kristus dan Gereja Katolik: "Wherever the bishop appears, let the people be there; just as wherever Jesus Christ is, there is the Catholic Church" (St. Ignatius of Antioch, Letter to the Smyrneans 8:2 [A.D. 107]). "Dimana ada Uskup, hendaknya umat hadir di situ, sama seperti dimana ada Yesus Kristus, Gereja Katolik hadir di situ." St. Ignatius dari Antiokia adalah Martir dan Uskup, hidup di jaman Para Rasul. Dia adalah murid St. Yohanes Penulis Injil dan menurut (t)radisi, ia adalah anak kecil yang digendong oleh Yesus sendiri pada perikop Injil Matius 18:1-6. Tulisan St. Ignatius, menunjukkan pada kita bahwa iman akan Kesatuan Kristus dan Gereja Katolik adalah iman Para Rasul dan Bapa Gereja Perdana. Paus Yohanes Paulus I (Pendahulu Paus Yohanes Paulus II), dalam audiensi umum 13 September 1978, juga menegaskan hal ini dengan berdasarkan pada tulisan St. Paulus. "Surat Santo Paulus: “Corpus Christi quod est Ecclesia” (Kol:18). Kristus dan Gereja Katolik adalah hal yang Satu. Kristus Kepala, Gereja Katolik TubuhNya. Tidaklah mungkin memiliki iman dan berkata, “Aku percaya kepada Yesus, tetapi aku tidak menerima Gereja Katolik Yang Satu.” (Pope John Paul I, General Audience on September 13, 1978). Selanjutnya, ditegaskan juga bahwa Gereja Katolik adalah Mempelai Kristus. Dalam hal ini berarti hubungan antara Kristus dan Gereja Katolik digambarkan dalam bentuk Perkawinan Yang Satu dan Tak Terceraikan.
Berikut adalah isi Katekismus Gereja Katolik 796, yang memuat dasar Kitab Suci dan (T)radisi Apostolik: Gereja adalah Mempelai Kristus (KGK796): Kesatuan antara Kristus dan Gereja Katolik, Kepala dan anggota-anggota Tubuh, berarti juga bahwa kedua-duanya memang berbeda satu dengan yang lain, tetapi berada dalam hubungan yang sangat Pribadi. Aspek ini sering dinyatakan dengan gambar mempelai pria dan wanita. Bahwa Kristus adalah Pengantin Pria dari Gereja, telah dinyatakan oleh Para Nabi dan Yohanes Pembaptis mengumumkanNya (Yoh 3:29). Tuhan sendiri menyebut Diri sebagai "mempelai pria" (Mrk 2:19, Mat 22:1-14; 25:1-13). Sang Rasul melukiskan Gereja dan setiap umat beriman yang adalah Anggota Tubuh Kristus, sebagai seorang mempelai wanita yang Ia tempatkan sebagai "tunangan" Kristus Tuhan, supaya ia menjadi Satu Roh - Dia (1 Kor 6:15-17; 2 Kor 11:2). Ia adalah pengantin wanita tanpa cacat Dari Anak Domba tanpa cacat, (Why 22:17; Ef 1:4; 5:27). yang "Kristus... kasihi dan untuk nya Ia telah menyerahkan DiriNya,... untuk menguduskan nya" (Ef 5:25-26), yang telah Ia ikat dengan DiriNya melalui Perjanjian Abadi dan yang Dia rawat seperti TubuhNya sendiri (Ef 5:29). "Seluruhnya Kristus, Kepala dan Tubuh, satu dari yang banyak... Apakah Kepala Yang berbicara atau Tubuh Yang berbicara, selalu Kristus-lah Yang Berbicara: Ia berbicara baik dalam peranan-Nya sebagai Kepala [ex persona capitis], maupun dalam peranan Tubuh (ex persona corporis). Apa yang tertulis, 'Keduanya menjadi satu daging. Itu adalah Rahasia yang sangat dalam; dikenakan Kepada Kristus dan Gereja' (Ef 5:31- 32). Dan Tuhan sendiri yang berkata dalam Injil: 'Jadi mereka bukan lagi dua melainkan satu daging' (Mat 19:6). Seperti kamu tahu, ada dua pribadi tetapi di pihak lain hanya satu oleh Hubungan Perkawinan... Sebagai Kepala Ia menamakan diri mempelai pria, sebagai Tubuh mempelai wanita" (Agustinus, Psal. 74,4). Dengan demikian, sudah layak dan selayaknyalah kita percaya; bahwa Kristus dan Gereja adalah Satu dan Tak Terpisahkan, inilah iman Para Rasul, iman Para Bapa Gereja.

Pax et Bonum


Karakteristik akhir Sejarah Gereja yang memiliki kesamaan dengan setiap subyek lainnya dari sejarah adalah ketidakberpihakan terhadap kebebasan setiap prasangka yang tidak berdasar terhadap orang-orang, pribadi atau fakta, dalam kesediaan jujur ??mengakui kebenaran sebagai penyelidikan teliti telah mengungkapkan hal itu dan untuk menggambarkan fakta-fakta atau peristiwa ketika mereka berada dalam realitas; dalam kata-kata Cicero menegaskan tidak ada kepalsuan yang disembunyikan Kebenaran (ne quid falsi dicere audeat, ne pound veri dicere non audeat, "De Oratore", II, ix, 15). Ini tidak berarti Kebenaran-Kebenaran Rohani kita telah datang untuk menyisihkan semua keyakinan agama-agama lain. Tidak sepenuhnya semua pandangan sejarawan Gereja (Voraussetzungslosigkeit) tidak masuk akal, tetapi pelanggaran terhadap obyektivitas sejarah. Ini bisa dipertahankan hanya pada hipotesis "bebal et ignorabimus", bahwa itu adalah akhir penyelidikan ilmiah; tidak ditemukannya Kebenaran, melainkan setelah mencari Kebenaran. Hipotesis seperti ini bagaimanapun adalah sangat tidak mustahil dipertahankan, untuk pernyataan skeptis dan rasionalis bahwa Kebenaran Rohani atau bahkan Kebenaran Murni dengan tujuan apapun berada di luar jangkauan kita merupakan hipotesis yang di atas mana basis sejarawan percaya berinvestigasi. Oleh karena itu hanya simulasi ketidakberpihakan yang dapat menampilkan sejarawan rasionalistik ketika individual sepenuhnya dari agama dan berkarakter Rohani dan dari Gereja.

Divisi


Bahan yang kaya, berlimpah untuk penyelidikan ilmiah. Umur Gereja yang panjang menawarkan kita dan telah banyak diperlakukan oleh sejarawan. Pertama-tama kita harus menyebutkan karya-karya lengkap yang besar yang bersifat universal, dimana perkembangan Para Anggota Tubuh Jasmani Gereja diperhitungkan (Universal Ecclesiastical History), bersama karya-karya ini kita menemukan banyak penelitian pada individu dan lembaga-lembaga tertentu Gereja (Ecclesiastical History Khusus). Ini pameran khusus mengobati salah satu dari Kehidupan Gereja internal atau eksternal, seperti yang telah dijelaskan panjang lebar diatas, dengan demikian juga menyebabkan perbedaan antara sejarah internal dan eksternal. Namun banyak juga karya-karya yang harus mempertimbangkan dua tahap kehidupan beragama; untuk kelas ini tidak hanya ada pada Sejarah Gereja secara umum, tetapi juga banyak yang cakupannya terbatas pada bidang tertentu (misalnya Sejarah dari Paus). Sejarah Gereja secara khusus, dibagi alami dalam tiga kelas utama. Pertama kita bertemu dengan perjalanan kehidupan dan aktivitas individu (Biografi) yang penting selama hidup mereka, khususnya Kehidupan Gereja memperlakukan Sejarah Gerejawi. Selain itu, khusus dari bagian-bagian tertentu dan Divisi Gereja, baik seluruh bagian sejarah tertentu dibahas atau hanya dipilih bagian yang sama. Dengan demikian kita memiliki deskripsi historis Wilayah Negara Tunggal atau bagian dari Mereka, misalnya Keuskupan, Paroki, Biara-Biara, Gereja-Gereja. Untuk itu juga dari Sejarah Misi, Subyek yang jauh penting jangkauanNya. Akhirnya setelah pilihan Subyek Khusus dari seluruh isi material (terutama dari internal Sejarah Gereja), secara terpisah diselidiki dan dilayani. Dengan demikian kita memiliki Sejarah Paus, Kardinal, Dewan, Koleksi Kehidupan dan Legenda Para Kudus, Rekomendasi Sejarah dan Jemaat; juga dari Patrologi, Dogma, Liturgi, Ibadat, Hukum, Konstitusi dan Kelembagaan Sosial Gereja.

Sejarah Gereja Universal


Fungsi Sejarah Gereja Universal, seperti namanya, menunjukkan Gambaran yang seimbang dari semua fase Kehidupan Gerejawi. Penyelidikan dan pelayanan berbagai fenomena dalam Kehidupan Gereja memberikan materi dalam Sejarah Gereja Universal dibangun. Utama harus dimulai dari Satu Gereja Yang Benar sejak jaman Para Rasul, keberadaannya tidak terganggu dan atribut yang khas, telah membuktikan diri Hubungan Kristen yang independen dalam ke-Pemilikan Penuh terungkap dalam Kebenaran Gereja Katolik. Ini harus, apalagi, berurusan dengan orang-orang asosiasi keagamaan lain yang mengklaim sebagai Gereja Kristus, tetapi dalam kenyataannya berasal melalui pemisahan dari Gereja Yang Benar. Sejarawan Katolik tidak mengakui bahwa berbagai bentuk agama Kristen dapat diambil, secara tegas keseluruhan terhubung, juga tidak menganggap mereka satu dan semua sama, begitu banyak usaha yang tidak sempurna untuk adaptasi Ajaran dan Lembaga Kristus untuk perubahan yang dibutuhan jaman atau sebagai langkah progresif menuju kesatuan yang lebih tinggi di masa depan, sebab dimana saja kita harus mencari Ideal Sempurna Kristen. Hanya ada Satu Wahyu Ilahi diberikan kepada kita Oleh Kristus, Satu Tradisi Gerejawi berdasar Itu; maka adalah hanya ada satu Yang Benar ialah Satu Gereja saja, yaitu Gereja Dimana Wahyu tersebut diatasNya ditemukan secara keseluruhan Lembaga yang telah dikembangkan atas Dasar Wahyu Ini dan dibawah bimbingan Roh Kudus. Menganggap kesetaraan di antara berbagai bentuk agama Kristen: akan setara dengan penolakan Asal Ilahi dan Katakter Rohani dari Gereja.

Gereja Katolik adalah Subyek Utama dari Sejarah Gereja Universal, semua bentuk lain dari agama Kristen juga harus diperhatikan lewat Itu, karena mereka berasal dari pemisahkan diri dari Gereja Yang Benar/Pendiri mereka, sejauh setiap bentuk dapat ditelusuri kembali ke Pendiri, yang eksternal Anggota Gereja. Beberapa dari benda-benda yang terpisah masih dipertahankan antara lembaga gerejawi mereka, bentuk tertentu yang umum digunakan pada saat pemisahan mereka dari Gereja karena pengetahuan tentang lembaga-lembaga tersebut tidak ada gunanya, sedikit untuk siswa dari kondisi Gerejawi sebelumnya untuk pemisahan. Hal ini berlaku secara khusus dari komunitas Kristen Oriental, liturgi dan disiplin. Selain itu badan-badan skismatik seperti menjadi sebagai aturan perlawanan Gereja; mereka dilecehkan dan dianiaya, penganut setia dan berusaha dengan segala cara untuk membujuk juga mereka memisahkan diri. Diskusi doktrinal baru muncul sebagai akibat dari perpecahan ini, biasanya berakhir lebih umum dan pernyataan yang tepat lebih dari ajaran Kristen dan metode baru harus diadopsi untuk membatalkan serangan yang dilakukan oleh orang-orang yang keluar dari Iman Katolik. Dengan cara ini masyarakat non-Katolik sering secara tidak langsung mempengaruhi perkembangan kehidupan internal gereja dan pertumbuhan lembaga-lembaga baru.
Bahan yang luas, dari sudut pandang ini Sejarah Gereja Universal harus memperlakukan panggilan, tentu saja untuk pengaturan metodis. Sejarah Gereja secara umum telah dibagi menjadi tiga periode utama, yang masing-masing dibagi menjadi jaman pendek ditandai dengan perubahan yang bersifat kurang universal.

Periode pertama


Landasan Gereja dan pengembangan standar hidup tetap Gerejawi dalam batas-batas peradaban Graeco-Romawi. Pada periode ini tingkat geografis Gereja praktis terbatas pada wilayah Mediterania dari kekaisaran Romawi. Hanya di beberapa tempat terutama di Orient yang melampaui batas-batasnya. Peradaban Graeco-Romawi seragam dan universal, yang berlaku adalah wilayah yang menguntungkan bagi pertumbuhan Kehidupan Gerejawi baru, yang menampilkan tiga fase utama:
  1. Landasan Gereja oleh Para Rasul, yang beberapa tapi sangat penting, tahun dimana para utusan Kerajaan Allah dipilih oleh Kristus sendiri, ditata wilayah-rencana untuk semua perkembangan selanjutnya dari Gereja (Apostolik Epoch).
  2. Perluasan dan pembentukan bagian dalam Gereja ditengah serangan, kegigihan yang lebih atau kurang dari bagian pemerintahan Romawi (Epoch of Penganiayaan), di provinsi-provinsi berbeda dari Kekaisaran Romawi dan di Timur bahkan diluar batas-batasnya, komunitas Kristen melompat ke dalam kehidupan awalnya dipandu orang-orang yang telah ditunjuk oleh Rasul dan yang melanjutkan pekerjaan Mereka. Signifikan pada awalnya, Komunitas ini terus meningkat dalam ke-Anggotaan meskipun oposisi sama-sama mantap dari Pemerintah Romawi. Saat itulah hirarki Gerejawi, ibadah, Hidup Religius diasumsikan bentuk tetap yang mengkondisikan semua pada perkembangan selanjutnya.
  3. Jaman ketiga ditandai dengan persatuan yang erat antar Gereja dan Negara, dengan posisi istimewa konsekuen para teolog dan konversi lengkap dari Negara Romawi (The Christian Empire).
Doktrin/Ajaran Inkarnasi Anak Allah yang disesatkan, membawa ke pertanyaan penting dogmatikal terdepan. Para Dewan Besar pertama dari jaman ini, serta literatur ecclesiastico-teologis Kristen Kuno berlimpah. Sementara Hirarki dan Administrasi Gerejawi dikembangkan lebih lengkap, keunggulan Roma berdiri mencolok seperti pada jaman sebelumnya. Monastisisme memperkenalkan faktor baru dan penting kedalam kehidupan Gereja. Seni rupa menempatkan dirinya untuk melayani Gereja. Di bagian Timur kekaisaran kemudian dikenal sebagai kekaisaran Bizantium, pembangunan ini berlangsung cukup mengganggu; di Barat invasi barbar berubah secara radikal kondisi politik yang dikenakan Gereja sebagai tugas mendesak dan penting untuk mengubah dan mendidik negara-negara Barat yang baru, tugas yang dieksekusi sukses besar. Ini membawa elemen baru ke dalam Kehidupan Gereja, sangat penting menandai awal dari sebuah periode baru.

Periode kedua


Gereja sebagai nyonya dan panduan Rumawi yang baru, Jerman dan negara-negara Slavia dari Eropa, pemisahan dari Kristen Oriental dari Kesatuan Gerejawi dan penggulingan akhir dari Kekaisaran Bizantium. - Pada periode ini terjadi peristiwa yang cukup sangat mempengaruhi Kehidupan Gerejawi.
Tiga jaman utama menunjukkan jatidiri mereka:
  1. Abad pertama jaman ini ditandai dengan pengembangan persatuan yang erat antara Kepausan dan masyarakat Barat baru yang jatuh, jauh dari Orient, pada Pusat Kesatuan Gerejawi di Roma. Gereja melakukan pekerjaan besar membudayakan bangsa-bangsa barbar dari Eropa. Sisi kegiatannya berakibat sangat banyak dan memperoleh pengaruh luas, tidak hanya pada agama tetapi juga pada kehidupan politik dan sosial. Dalam hal ini penciptaan Kekaisaran Barat dan hubungan dengan Paus sebagai Kepala Gereja adalah karakteristik dari posisi Gereja Abad Pertengahan. Penurunan yang dalam, diikuti aliansi Para Paus dengan Carlovingians. Penurunan ini terwujud tidak hanya di Roma-Pusat Gereja, dimana Bangsawan Romawi memecah belah menggunakan Paus sebagai alat politik, tetapi juga diberbagai belahan Barat. Melalui intervensi dari Kaisar Jerman paus kembali ke posisinya yang tepat, tetapi pada saat yang sama pengaruh kekuatan sekuler pada pemerintah Gereja tumbuh berbahaya dan bertahan. Tindakan Photius-Patriark Konstantinopel, menyebabkan pecah dengan Roma yang ditakdirkan untuk menjadi final.
  2. Bagian kedua dari periode ini menunjukkan bagaimana Kristen Barat tumbuh ke dalam persekutuan besar dari masyarakat di bawah bimbingan tertinggi otoritas keagamaan umum. Kehidupan populer dimana-mana, ini mencerminkan Universalisme Kristen. Dalam konflik dengan kekuatan sekuler, Para Paus berhasil membawa melalui Reformasi Gerejawi dan pada saat yang sama pengaturan sedang terjadi di Barat, gerakan besar dari Perang Salib. Semua kepentingan publik berpusat pada Kehidupan Gerejawi. Bangsawan dan awam penuh dengan semangat iman ditindaklanjuti melalui asosiasi Tujuan Gereja yang kuat. Kepausan naik ke puncak kekuasaan, tidak hanya dalam agama, tetapi juga dalam domain temporal. Ordo baru khususnya Pengemis/Karmelit, memupuk kehidupan beragama yang tulus di dalam setiap pangkat masyarakat. Universitas-universitas menjadi pusat aktivitas intelektual terkenal, dikhususkan sebagian besar untuk pengembangan teologi. Bangunan Gereja yang megah dibuat di kota-kota dan merupakan bukti semangat dari agama dan kepercayaan diri kuat dari penduduk. Posisi kuat yang diemban Gereja dan Perwakilannya, namun banyak bahaya yang timbul di satu sisi dari keduniawian meningkatnya hirarki, di sisi lain dari oposisi ke sentralisasi berlebihan pemerintahan Gerejawi di Kepausan Kuria dan antagonisme Pangeran dan bangsa untuk kekuasaan politik dari Atasan Gerejawi, khususnya Paus.
  3. Dalam konsekuensi jaman ketiga periode ini diisi dengan reaksi terhadap kejahatan waktu sebelumnya dan dengan hasil kejahatan tersebar luas keduniawian di dalam Gereja dan penurunan hidup tulus religius. Memang benar bahwa kepausan meraih kemenangan terkenal dalam konflik dengan Jerman Hohenstaufen, tetapi segera jatuh di bawah pengaruh Raja-Raja Perancis, mengalami kerugian pedih otoritas melalui Skisma Barat dan mengalami kesulitan pada saat dewan reformasi (Constance, Pisa, Basle) dalam membendung gelombang anti-Paus yang kuat. Selain itu otoritas sipil tumbuh lebih lengkap, sadar akan dirinya, lebih sekuler dalam kemarahan dan memusuhi Gereja; gangguan-gangguan sipil berlipat pada Domain Gerejawi. Secara umum lingkup otoritas rohani dan sekuler, Hak-Hak Gereja dan orang-orang dari negara, tidak tuntas diselesaikan sampai setelah banyak konflik dan sebagian besar merugikan Gereja. Renaissance memperkenalkan elemen baru dan sekuler ke dalam kehidupan intelektual; itu mencopot supremasi studi mereka, Gerejawi terlalu dominan, disebarkan secara luas ide-ide palsu dan materialistis dan menentang metode sendiri untuk orang-orang skolastik yang memiliki berbagai cara yang rendah. Ajaran sesat baru, mengambil karakter yang lebih umum. Panggilan untuk "reformasi kepala dan anggota" begitu keras disuarakan Dewan dari hari ke hari, tampaknya untuk membenarkan oposisi tumbuh untuk Otoritas Gerejawi. Dalam dewan itu sendiri sebuah konstitusionalisme palsu berpendapat untuk administrasi tertinggi Gereja dengan keutamaan Kepausan dahulu. Begitu banyak fenomena yang menyakitkan menunjukkan adanya pelanggaran besar dalam kehidupan beragama dari Barat. Bersamaan dengan itu, Kekaisaran Bizantium benar-benar digulingkan oleh Turki, Islam memperoleh pijakan yang kuat di Eropa Selatan-Timur dan mengancam orang Kristen di seluruh Barat.

Periode ketiga


Runtuhnya persatuan agama di antara kedua negara Barat dan reformasi dari dalam Kehidupan Gerejawi dilakukan selama konflik, lawan terbarunya ajaran sesat yang besar. Ekspansi geografis Immense Gereja karena aktivitas bersemangat misionaris melalui Amerika Selatan, bagian dari Amerika Utara dan banyak pengikut di Asia dan Afrika yang diperoleh untuk Iman Katolik. Dalam periode ini, juga mencapai ke masa sekarang, kita melihat beberapa jaman pendek selama Kehidupan Gerejawi, ditandai ciri-ciri khas dan fenomenal:
  1. Kehidupan sipil dari berbagai bangsa Barat tidak lagi dianggap identik dengan kehidupan dan tujuan Gereja Universal. Protestan memotong seluruh bangsa, khususnya di Tengah dan Utara Eropa, dari kesatuan Gerejawi dan masuk pada konflik dengan Gereja yang belum dihentikan. Di sisi lain para penganut setia dari Gereja lebih erat bersatu, sedangkan Konsili Ekumenis besar Trent meletakkan dasar yang kuat bagi reformasi menyeluruh dalam kehidupan batin atau domestik Gereja yang segera diwujudkan melalui aktivitas baru Perintah (terutama Yesuit) dan melalui serangkaian luar biasa Para Kudus yang besar. Paus mengabdikan diri secara eksklusif untuk misi agama dan mengambil reformasi Katolik dengan energi yang besar. Negara-negara yang baru ditemukan di Barat dan hubungan berubah antara Eropa dan negara-negara Timur dengan banyak misionaris, semangat sangat aktif untuk konversi dari dunia pagan. Upaya utusan Iman dimahkotai dengan sukses, sehingga Gereja dalam berbagai ukuran kompensasi untuk pembelotan di Eropa.
  2. Di jaman berikutnya menunjukkan lagi penurunan pengaruh Gerejawi dan kehidupan beragama. Sejak pertengahan abad ketujuh belas, terdapat tiga asosiasi keagamaan besar: Gereja Katolik Pusat, gereja terpecah-belah Yunani dengan pelindungan kuat Rusia, bersama-sama dengan gereja-gereja kecil terpecah-belah dari Timur; Protestan yang bagaimanapun tidak pernah merupakan agama bersatu, menjadi banyak sekali sekte, menerima supremasi langsung dari kekuatan sekuler dan diadakan di setiap wilayah sebagai gereja nasional. Absolutisme pertumbuhan negara dan pangeran, dengan cara ini sangat ditindaklanjuti. Di negara-negara Katolik juga para pangeran mencoba menggunakan Gereja sebagai "Regni instrumentum" untuk melemahkan sebanyak mungkin pengaruh kepausan. Kehidupan publik hilang, kontak yang bermanfaat dengan Agama Universal Yang Kuat. Di samping itu, filsafat palsu diratakan serangan Wahyu Kristen pada umumnya. Protestanisme cepat melahirkan ras ketidakpercayaan, pemikir bebas yang tersebar di semua sisi skeptisisme yang sesat. Isu politik menjadikan banyak pengaruh fatal: Revolusi Perancis, yang pada gilirannya menimbulkan cedera berat pada Kehidupan Gerejawi.
  3. Dengan abad kesembilan belas muncul negara konstitusional modern berdasarkan prinsip-prinsip kebebasan politik seluas-luasnya. Meskipun dalam dekade pertama abad kesembilan belas Gereja sering terhambat dalam PekerjaanNya dengan kejatuhan sistem politik lama, tetapi tetap dijamin kebebasan di bawah pemerintahan baru populer nasional, sepenuhnya dikembangkan energi agamanya dan di sebagian besar negara mampu menunjukkan gerakan naik dalam setiap bidang kehidupan beragama. Paus besar dipimpin dengan tangan yang kuat meskipun kehilangan kekuasaan sekuler mereka. Dewan Vatikan sedunia, dengan mendefinisikan infalibilitas Kepausan, didukung dengan ketegasan Otoritas Gerejawi terhadap subjektivisme palsu. Pembelotan Katolik Lama relatif tidak penting, sementara Protestan adalah mangsa harian dan kehilangan terus-menerus semua klaim untuk dianggap sebagai agama yang didasarkan pada Wahyu Ilahi, Gereja Katolik muncul dalam kesatuan kompak sebagai Wali Sejati, Lapisan Murni Iman, Pendiri Ilahi yang awal dipercayakan kepada Nya. Konflik ini semakin aktif antar Gereja, sebagai Pemenang Wahyu Rohani dan perselingkuhan, yang bertujuan untuk supremasi dalam kehidupan publik, politik, ilmu pengetahuan, sastra dan seni. Negara-negara non-Eropa mulai memainkan peran penting di dunia dan diarahkan ke bidang baru Kegiatan Gerejawi. Umat ​​Katolik telah meningkat begitu pesat dalam abad terakhir dan pentingnya beberapa negara non-Eropa pada Kehidupan Gerejawi telah diambil pada proporsi tersebut, bahwa Sejarah Gereja Universal menjadi lebih dan terlebih lagi sejarah agama di dunia.
Hebatnya titik balik dalam Sejarah Perkembangan Gereja, tidak muncul tiba-tiba atau tanpa sebab. Sebagai aturan selama kejadian penting yang terjadi di dalam jaman yang lebih pendek akhirnya membawa perubahan universal untuk kehidupan internal Gereja dan memaksa kita untuk mengenali kedatangan periode baru. Tentu antara menonjolnya titik balik ada interval yang lebih pendek atau transisi, sehingga batas-batas tepat dari periode Kepala yang beragam yang ditetapkan oleh sejarawan Gereja berbeda, sesuai dengan pentingnya yang mereka lampirkan, satu atau lain hal seperti tersebut di atas peristiwa penting atau situasi. Pembagian antara periode pertama dan kedua memiliki pembenaran dalam kenyataan bahwa karena jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat dan hubungan antara Gereja dan negara-negara Barat yang baru, bentuk-bentuk dasar yang baru dari kehidupan yang dipanggil, sedangkan di budaya Bizantium Timur telah mapan. Titik balik antara yang lama dan negara baru sekaligus diikuti konversi suku Teutonik; waktu berlalu sebelum kehidupan Barat bergerak dengan mudah dalam segala bentuk baru. Beberapa (Neander, Jacobi, Baur, dll) mempertimbangkan Paus Gregorius Agung pada tahun 590 atau (Moeller, Müller) lebih umum akhir keenam dan pertengahan abad ketujuh sebagai penutupan periode pertama; lainnya (Dollinger, Kurtz) menjadi Dewan Umum Keenam 680 atau (Alzog, Hergenrother, von Funk, Knopfler) yang Trullan sinode dari 692 akhir abad ketujuh; lainnya lagi menutup periode pertama dengan St Bonifasius (Ritter, Niedner) atau dengan Iconoclasts (Gieseler, Mohler) atau dengan Charlemagne (Hefele, Hase, Weingarten). Untuk Kraus Barat menganggap awal abad ketujuh sebagai penutupan periode pertama untuk Timur; akhir abad yang sama. Berbicara secara umum, namun tampaknya lebih masuk akal untuk menerima akhir abad ketujuh sebagai penutupan periode pertama. Demikian pula sepanjang garis pembagian antara kedua dan periode ketiga peristiwa penting bagi kehidupan Gerejawi ramai: pengaruh Renaissance terhadap semua kehidupan intelektual, penaklukan Konstantinopel oleh Turki, penemuan Amerika dan masalah baru Gereja yang harus dipecahkan akibat penampilan Luther dan ajaran sesat Protestannya, Konsili Trente dengan pengaruh yang menentukan terhadap evolusi internal Kehidupan Gereja. Sejarawan Protestan menganggap penampilan Luther sebagai awal dari periode ketiga. Beberapa penulis Katolik (misalnya Kraus) menutup periode kedua dengan pertengahan abad kelima belas; itu adalah untuk dicatat, bagaimanapun, bahwa faktor sejarah baru dalam kehidupan Gereja yang kondisi periode ketiga menjadi menonjol hanya setelah Konsili Trent, independen merupakan hasil penting dari Protestan. Tampaknya karena itu disarankan untuk menganggap awal abad keenam belas sebagai dimulainya periode ketiga.
Juga tidak sempurna, penulis setuju pada titik balik yang harus dimasukkan dalam periode Kepala. Memang benar bahwa konversi Konstantinus Agung mempengaruhi Kehidupan Gereja begitu mendalam bahwa Pemerintahan Kaisar Kristen pertama ini, secara umum diterima sebagai menandai sub-divisi pada periode pertama. Pada periode kedua, kepribadian terutama menonjol biasanya menandai batas-batas dari beberapa sub-divisi, misalnya Charlemagne, Gregory VII, Bonifasius VIII, meskipun ini mengarah pada kurang menghargai faktor penting lainnya misalnya Yunani Skisma, Perang Salib. Penulis baru-baru ini, oleh karena mengutamakan garis batas lainnya yang menekankan kekuatan aktif dalam kehidupan Gereja daripada tokoh terkemuka. Dalam pengelompokan periode ketiga, kesulitan sama muncul sendirinya. Banyak sejarawan menganggap Revolusi Perancis pada akhir abad kedelapan belas sebagai sebuah peristiwa penting cukup untuk menuntut era baru; mungkin orang lain lebih masuk akal melihat garis dari jaman penting yang berbeda dalam Perjanjian Westphalia (1648) dengan mana pembentukan wilayah Protestan besar berakhir. Dari pertimbangan diatas Sejarah Gerejawi ini disusun menurut kronologis Sejarah Gerejawi Universal:

Periode petama


Asal dan Pengembangan Gereja di kalangan Graeco-Romawi kuno (dari kelahiran Kristus dengan penutupan abad ketujuh).
  • Epoch pertama: fondamen, ekspansi dan pembentukan Gereja meskipun penindasan negara pagan-Roman (dari Kristus kepada Edict of Milan, 313).
  • Epoch kedua: Gereja di connexion erat dengan Kekaisaran Kristen-Romawi (dari Edik Milan ke Trullan Sinode, 692).

Periode kedua


Gereja sebagai panduan dari negara-negara Barat (dari akhir abad ketujuh awal enam belas).
  • Epoch pertama: Paus dalam aliansi dengan Carlovingian, dekadensi kehidupan beragama di Barat, isolasi Gereja Bizantium dan akhirnya pecah dengan Roma (Trullan Sinode ke Leo IX, 1054).
  • Epoch kedua: reformasi internal Kehidupan Gerejawi melalui Paus, Perang Salib, berkembang kehidupan agama dan ilmu, Acme Kekuasaan Gerejawi dan politik Kepausan (dari 1054 ke Boniface VIII, 1303).
  • Epoch ketiga: penurunan Kekuasaan Gerejawi dan politik Kepausan; pembusukan kehidupan beragama dan protes untuk reformasi (dari 1303 ke Leo X, 1521).

Periode ketiga


Gereja setelah runtuhnya persatuan agama di Barat, perjuangan melawan bidah dan perselingkuhan, ekspansi di negara-negara non-Eropa (dari awal abad keenam belas usia kita sendiri).
  • Epoch pertama: asal dan perluasan Protestan; konflik dengan ajaran sesat dan reformasi Kehidupan Gerejawi (dari 1521 ke Perjanjian Westphalia, 1648).
  • Epoch kedua: penindasan Gereja oleh negara-absolutisme, melemahnya kehidupan beragama melalui pengaruh emansipasi intelektual palsu (dari 1648 hingga Revolusi Perancis, 1789).
  • Epoch ketiga: penindasan Gereja oleh Revolusi; pembaharuan Kehidupan Gerejawi berjuang melawan perselingkuhan; kemajuan kegiatan misionaris (dari 1789).
Mengenai pelayanan metodis dari subjek-materi pada divisi utama, kebanyakan penulis berusaha untuk pemulihan fase utama internal dan eksternal Sejarah Gereja sedemikian rupa untuk mengamankan pengaturan logis setiap periode. Penyimpangan dari metode ini luar biasa, seperti ketika Darras memperlakukan setiap kepausan secara terpisah. Metode terakhir ini agak terlalu mekanis dan sesat dan dalam kasus periode yang panjang menjadi sulit untuk mempertahankan pemahaman yang jelas dari fakta-fakta dan menghargai hubungannya. Oleh sebab itu penulis baru-baru ini bertujuan membagi masalah ini dalam periode yang berbeda karena akan meletakkan lebih banyak tekanan pada bentuk penting dan ekspresi kehidupan Gerejawi (Moeller, Muller, Kirsch dalam revisinya Hergenrother). Periode yang lebih besar dibagi menjadi beberapa jaman pendek, di masing peristiwa/situasi paling penting dalam Sejarah Gereja menonjol keunikannya, fase lain dari Kehidupan Gerejawi - termasuk Sejarah Gerejawi dari masing negara - dirawat dalam hubungan dengan Subjek Sentral. Sehingga Subyek setiap periode menerima kesembuhan kronologis dan logis digambarkan sebagian besar sesuai sejarah perkembangan peristiwa. Keuntungan narasi dalam kejernihan dan finish artistik dalam periode yang lebih pendek bahan sejarah lebih mudah ditangkap, sedangkan kekuatan aktif dalam semua gerakan besar muncul dalam bantuan yang berani. Memang benar bahwa metode ini melibatkan ketimpangan tertentu dalam pelawatan berbagai fase Kehidupan Gerejawi, tetapi ketimpangan yang sama sudah dijelaskan dalam situasi historis.

Sumber Sejarah Gerejawi


Sumber-sumber sejarah adalah hasil-hasil manusia yang baik, awalnya ditujukan atau - karena keberadaan mereka, asal dan kondisi lain - yang paling utama dipasang untuk memberikan pengetahuan dan bukti fakta sejarah. Oleh karena itu sumber-sumber Sejarah Gerejawi adalah hal apapun baik karena obyek atau situasi lain, bisa mengarahkan cahaya pada fakta-fakta yang membentuk Kehidupan Gerejawi masa lalu. Sumber-sumber ini jatuh secara alami kedalam dua kelas:
  1. Tetap (reliquiœ, Ueberreste) atau sumber langsung, yaitu seperti membuktikan fakta secara langsung, menjadi diri sendiri sebagian atau sisa-sisa dari kenyataan. Untuk kelas ini termasuk sisa-sisa dalam arti kata sempit, misalnya kebiasaan Liturgis, Lembaga Gerejawi, tindakan Para Paus dan Dewan, seni-produk dll; juga mendirikan monumen untuk memperingati peristiwa, misalnya Prasasti.
  2. Tradisi atau menengahi sumber, yaitu seperti berhenti pada keterangan saksi yang berkomunikasi untuk agenda orang lain. Tradisi mungkin lisan (narasi dan legenda), tertulis (tulisan penulis tertentu), atau tergambar (gambar, patung-patung).
Perlakuan kritis dari dua jenis sumber berbeda. Hal ini biasanya cukup untuk membuktikan keaslian dan integritas "sisa-sisa" dalam rangka membangun validitas bukti mereka. Dalam kaitan dengan tradisi, disisi lain harus membuktikan bahwa penulis sumber tersebut layak, juga mungkin baginya untuk mengetahui fakta. Sumber dibagi lagi:
  1. Sesuai dengan asal-usulnya, Ilahi (tulisan-tulisan kanonik suci) dan manusia (semua sumber lain);
  2. Sesuai dengan posisi penulis, publik (seperti berasal dari orang yang resmi atau hakim, misalnya tulisan kepausan, keputusan dewan, surat pastoral uskup, aturan perintah dll) dan swasta (seperti berasal dari seseorang tidak memegang jabatan publik atau dari seorang pejabat dalam kapasitas pribadinya, misalnya biografi, karya penulis Gerejawi, surat-surat pribadi dll);
  3. Mmenurut agama penulis, dalam negeri (asal Kristen) dan asing (yaitu ditulis oleh non-Kristen);
  4. Sesuai dengan cara penyebaran, tertulis (prasasti, tindakan publik, tulisan semua jenis) dan tidak tertulis (monumen, seni-produk cerita, legenda dll).
Sumber-sumber sejarah tersebut diatas di jaman modern telah sepenuhnya kritis diselidiki oleh banyak sarjana, sekarang mudah diakses oleh semua dan dalam edisi baik. Sebuah garis yang sangat umum dari sumber-sumber ini akan cukup disini.

Peninggalan


Sisa-sisa masa lalu Gereja yang memberikan bukti langsung dari fakta-fakta sejarah adalah sebagai berikut:
  1. Prasasti, yaitu teks yang ditulis pada bahan yang tahan lama, baik yang dimaksudkan untuk mengabadikan pengetahuan tentang tindakan-tindakan tertentu atau yang menggambarkan karakter dan tujuan objek tertentu. Prasasti Kristen dari jaman dan negara yang berbeda kini dapat diakses dalam berbagai koleksi.
  2. Monumen yang didirikan untuk Tujuan Kristen, makam, bangunan-bangunan suci, biara-biara, rumah sakit dan ziarah; benda-benda yang digunakan dalam Liturgi atau ibadat-ibadat pribadi.
  3. Liturgi, ritual, terutama buku-buku Liturgi dari berbagai jenis yang pernah digunakan dalam Pelayanan kepada Tuhan.
  4. Necrologies dan persaudaraan-buku bekas doa dan pelayanan publik untuk hidup dan yang mati.
  5. Tindakan Kepausan, Bulls dan Brief untuk sebagian besar diedit dalam Kepausan "Bullaria", "Regesta", dan Koleksi Ecclesiastico-Nasional Khusus.
  6. Kisah dan Putusan Dewan Umum dan Sinode tertentu.
  7. Koleksi Putusan resmi dari Jemaat Roma, Uskup, dan Otoritas Gerejawi lainnya.
  8. Aturan iman (Symbola Fidei) disusun untuk kepentingan umum Gereja, berbagai koleksi yang dibuat.
  9. Koleksi Resmi, Hukum Gerejawi Yuridis wajib bagi seluruh Anggota Gereja.
  10. Peraturan dan konstitusi pesanan dan jemaat.
  11. Konkordat antara Gereja dan kekuasaan sekuler.
  12. Hukum perdata, sering mengandung hal-hal agama kepentingan Gerejawi.

Tradisi


Disini kita berbicara dari sumber-sumber yang bertumpu hanya pada tradisi, seperti sisa-sisa tidak ada bagian nyata. Mereka adalah:
  1. Koleksi dari tindakan Para Martir, Legenda dan Kehidupan Para Kudus.
  2. Koleksi dari kehidupan Para Paus (Liber Pontificalis) dan Uskup dari Gereja-Gereja partikular.
  3. Pekerjaan penulis Gerejawi, yang berisi informasi tentang peristiwa sejarah; sampai batas tertentu semua Literatur Gerejawi termasuk kategori ini.
  4. Karya Ecclesiastico-Historis, yang mengambil lebih atau kurang sumber karakter, terutama untuk waktu dimana penulis tinggalkan.
  5. Representasi Pictorial (lukisan, patung, dll).
Hal tersebut diatas dapat diakses dalam berbagai koleksi, sebagian dalam edisi karya penulis tertentu (Bapa Gereja, teolog, sejarawan), sebagian dalam koleksi sejarah yang mengandung tulisan-tulisan penulis yang berbeda berkorelasi dalam konten, atau semua sumber tertulis tradisional untuk diberikan lahan.

Ilmu Bantu/Tambahan


Dasar dari semua ilmu sejarah adalah pelayanan yang tepat penggunaan sumber-sumber. Oleh karena itu sejarawan Gerejawi harus menguasai sumber-sumber secara keseluruhan, memeriksa semua untuk kepercayaan, memahami dengan benar dan menggunakan metodis informasi yang diperoleh.
Bimbingan sistematis dalam semua hal ini diberikan oleh ilmu-ilmu tertentu yang dikenal sebagai "pembantu ilmu sejarah". Karena Sejarah Gerejawi begitu erat terkait dengan teologi disatu sisi dan disisi lain dengan ilmu sejarah, pengetahuan tentang semua ini secara umum merupakan prasyarat untuk studi ilmiah tentang Sejarah Gereja. Bagaimana memperlakukan sumber kritis, yang terbaik belajar dari manual lalu pengenalan ilmiah untuk studi sejarah (Bernheim); ilmu tambahan khusus (misalnya epigrafi, paleografi, numismatics) berurusan dengan jenis tertentu dari sumber-sumber yang disebutkan diatas.
Demikian membantu kita dapat menyebutkan:
  1. Studi sumber bahasa, yang memerlukan penggunaan leksikon, baik umum atau khusus (yaitu untuk bahasa penulis tertentu). Di antara leksikon umum atau Glosari adalah: Du Fresne du Cange, "Glossarium ad scriptores mediæ et infimæ græcitatis" (2 jilid, Lyons, 1688.); Idem, "Glossarium ad scriptores mediæ et infimæ latinitatis"; Forcellini, "Lexicon totius latinitatis" (Padua, 1771, sering dicetak ulang). "Thesaurus linguæ latinæ" (dimulai di Leipzig, 1900).
  2. Palœography, pengenalan metodis untuk membaca dan kendaraan dari semua jenis sumber naskah. Ini pertama kali diselidiki ilmiah dan dirumuskan oleh Mabillon, "De re diplomaticâ" (Paris, 1681); literatur mengenai hal ini dapat ditemukan dalam manual dari de Wailly, "Elements de Paléographie" (2 jilid, Paris, 1838.); Wattenbach, "Latein. Paläog." (Ed 4, Leipzig, 1886.) Dan "Schriftwesen im Mittelalter" (3rd ed, Leipzig, 1896.); EM Thompson, "Handbook of Yunani dan Latin paleografi" (ed 2nd, London, 1894.); Prou, "Manuel de Paléographie latine et française" (Paris, 1904); Chassant, "Paléographie des Chartes et des manuscrits" (ed 8th, Paris, 1885.); Reusens, "Elements de paléogr." (Louvain, 1899); Paoli, "Paleografia" (3 jilid., Florence, 1888-1900). Charts untuk latihan membaca naskah Abad Pertengahan yang diedit oleh: Wattenbach, ".. Script græc specimina" (. 3rd ed, Leipzig, 1897); Sickel, ".. Monum grafik Medil ævi" (10 seri, 1858-1882); Bond, Thompson, dan Warner, "Facsimiles" (5 seri, London, 1873-1903); Delisle, "Album paléogr." (Paris, 1887); Arndt dan Tangl, "Schrifttafeln" (3 jilid, 1904-6.); Chroust, "Mon. Palæogr." (25 seri, Munich, 1899 -); Steffens, "Latein. Paläogr." (2nd ed, 3 bagian, Trier, 1907 -.); Zangemeister dan Wattenbach, "Exempla cod. Latin." (1876-9); Sickel dan Sybel, "Kaiserurkunden di Abbildungen (1880-1891); Pflugk-Harttung," Chartarum pont. Rom. specimina "(3 bagian, 1881-6); Denifle," Specimina palæographica ab Inn. III ad Perkotaan. V "(Roma, 1888), Sebuah karya yang sangat berguna adalah Capelli," Dizionario di abbreviature latine ed Italiane "(Milan, 1899).
  3. Kepandaian diplomatik, yang mengajarkan bagaimana untuk memeriksa secara kritis bentuk dan isi dokumen sejarah (misalnya piagam), untuk mengatakan keaslian mereka, untuk memahami dengan benar dan untuk menggunakannya secara metodis. Hal ini biasanya dikombinasikan dengan paleografi. Literatur dapat ditemukan dalam manual baru-baru ini, misalnya Bresslau, "Handbuch der Urkundenlehre für Deutschland und Italien", I (Leipzig, 1889); Giry, "Manuel de diplomatique" (Paris, 1894). Lihat juga "Nouveau Traité de diplomatique" (Paris, 1750-1765).
  4. Metodologi Sejarah, yang memungkinkan siswa melayani dengan cara yang benar dan kritis kepada semua sumber dan untuk menggabungkan hasil penelitian dalam sebuah narasi metodis. Lihat Fr. Blass, "Hermeneutik und Kritik" di Iwan Müller "Handbuch der klassischen Altertumswissenschaft", I (ed 2, Munich, 1893.); Bernheim, "Lehrbuch der historischen Methode" (3rd ed, Leipzig, 1903.); Idem, "Das Akademische Studium der Geschichtswissenschaft (ed 2, Greifswald, 1907.); Idem," Einleitung in die Geschichtswissenschaft "di" Sammlung Goschen "(Leipzig, 1906); Zurbonsen," Anleitung zum wissenschaftlichen Studium der Geschichte nebst Materialien "(Berlin, 1906);. "Grundriss der Geschichtswissenschaft", diedit oleh Al Meister, I (Leipzig, 1906); Langlois dan Saignobos, "Introduction aux Etudes historiques" (Paris, 1905); Battaini, "Manuale di metodologia storica" (Florence , 1904).
  5. Bibliografi, ilmu praktis yang memungkinkan siswa untuk menemukan dengan cepat semua bantalan literatur tentang Subyek ecclesiastico-historis tertentu. Literatur yang paling penting adalah dapat ditemukan dalam manual ecclesiastico-sejarah baru-baru ini pada akhir berbagai subyek yang diterapi, dan diberikan dengan kepenuhan utama dalam edisi keempat Hergenrother itu "Kirchengeschichte" oleh JP Kirsch (Freiburg, 1902-9). Di antara karya-karya bibliografi penting khusus untuk Sejarah Gerejawi harus dinamai: "Bibliotheca hagiographica latina antiquæ et mediæ Aetatis", diedit oleh Bollandists; (2 jilid, Brussels, 1898-1901.) Potthast, "Bibliotheca sejara medii ævi" (2nd ed, 2 jilid, Berlin, 1896..); Bratke, "Wegweiser zu den Quellen und der der Literatur Kirchengeschichte" (Gotha, 1890); Chevalier, "repertoar des sumber historiques du moyen-âge: I. Bio-Bibliographie" (... Paris, 1877-1888, 2nd ed, 2 jilid, ibid, 1905); "II Topo-Bibliographie historique." (2 bagian, Paris, 1901-4); Stein, "Manuel de Bibliographie generale" (Paris, 1898); de Smedt, "Introductio generalis ad historiam ecclesiasticam critice tractandam" (Ghent 1876); Hurter, "nomenklatur literarius recentioris Theologiae catholicæ" (2nd ed, 3 jilid, Innsbruck, 1890-4, vol 4:.. "Theologia catholica medii ævi", ibid, 1899 Edisi ketiga terdiri dari seluruh sejarah Gerejawi,... ibid, 1903 -.). Untuk sejarah beberapa negara melihat: Wattenbach, ".. Deutschlands Geschichtsquellen im Mittelalter bis zur Mitte des 13 Jahrh" (... Ed 6, Berlin, 1894, 7th ed by Dummler, I, ibid, 1904); Lorenz, "Deutschlands Geschichtsquellen im Mittelalter seit der Mitte des 13. Jahrh." (Ed 3rd, ibid, 1886..); Dahlmann dan Waitz, "Quellenkunde der deutschen Geschichte" (6th ed oleh Steindorff, Göttingen, 1894.); Monod, "bibliografi de l'histoire de France" (Paris, 1888); Molinier, "Les sumber-sumber de l'histoire de France" (6 jilid, Paris, 1902.); Gross, "Sumber-Sumber dan Sejarah Sastra Inggris dari awal kali sampai sekitar 1485" (London, 1900). Di antara majalah bibliografi yang memperlakukan Sejarah Gereja, lihat: "Theologischer Jahresbericht" (sejak 1880), di bagian "Kirchengeschichte"; "Jahresberichte der Geschichtswissenschaft" (sejak 1878) di bagian "Kirchengeschichte"; "Bibliographie der kirchengeschichtlichen Literatur", dalam "Zeitschrift für Kirchengeschichte". Bibliografi paling lengkap dari Sejarah Gereja sekarang dapat ditemukan dalam "Revue d'histoire ecclésiastique" (Louvain, sejak tahun 1900).
  6. Kronologi, yang menginstruksikan siswa bagaimana mengenali dan memperbaiki dengan akurasi tanggal ditemukan dalam sumber-sumber. Penyelidikan kronologis penting pertama yang dilakukan oleh Scaliger ("De emendatione temporum," Jena, 1629 -), Petavius ​​("Rationarium temporum", Leyden, 1624; "De Doctrina temporum", Antwerp, 1703), dan penulis "Art de verifier les tanggal des faits historiques "(Paris, 1750 -). Karya-karya terbaru yang paling penting adalah: Ideler, "Handbuch der mathem u techn Chronologie..." (Berlin, 1825, ed 2nd, 1883.); De Mas-Latrie, "Trésor de chronologie, d'histoire et de Géographie pour l'étude et l'emploi des dokumen du moyen-âge" (Paris, 1889); Brinkmeier, "Praktisches Handbuch der historischen Chronologie aller Zeiten und Völker" (2nd ed, Berlin, 1882.); Ruhl, "Chronologie des Mittelalters und der Neuzeit" (Berlin, 1897); Lersch, "Einleitung in die Chronologie" (Freiburg, 1899); Grotefend, "Zeitrechnung des deutschen Mittelalters und den Neuzeit" (Hanover, 1891-8); Cappelli, "Cronologia e calendario perpetuo" (Milan, 1906); Ginzel, "Handbuch den mathemat. Und Technischen Chronologie. Das Zeitrechnungswesen den Völker", I (Leipzig, 1906).
  7. Ecclesiastical Geografi dan Statistik, yang pertama mengajarkan kita untuk mengenali tempat-tempat dimana peristiwa sejarah terjadi, yang lain merupakan pengembangan dari Gereja dan kondisi aktual dari lembaganya dipamerkan synoptically, dalam tabel dengan angka yang sesuai, dll. karya penting dari jenis ini adalah: Le Quien, "Oriens Christianus" (3 jilid, Paris, 1740.); Morcelli, "Afrika christiana" (2 jilid, Brescia, 1816.); Toulotte, "Géographie de l'Afrique chrétienne" (Paris, 1892-4); Ughelli, "Italia sacra" (2nd ed, 10 jilid, Venice, 1717-1722..); "Gallia Christiana" oleh Claude Robert (Paris, 1626), oleh Denis de Sainte-Marthe dan lain-lain (edisi baru, 16 jilid, Paris, 1715 -.); Böttcher, "Germania sacra" (2 jilid, Leipzig, 1874.); Neher, "Kirchliche Geographie und Statistik" (3 jilid, Ratisbon, 1864-8.); Idem, "ikhtisar hierarchiæ catholicæ" (Ibid., 1895); Silbernagl, "Verfassung und gegenwärtiger Bestand sämtlicher Kirchen des Orients" (ed 2, Munich, 1904.); Baumgarten, "Die Katholische Kirche unserer Zeit und Ihre Diener", III (Munich, 1902, 2nd ed, vol II, ibid, 1907...); Gams, "Seri episcoporum Ecclesiae catholicæ" (Ratisbon 1873, Supplem, 1879 dan 1886), dilanjutkan ditulis oleh Eubel, "Hierarchia catholica medii ævi", I-II (Münster, 1898-1901); Spruner dan Menke, "Historischer Handatlas" (3rd ed, Gotha, 1880.); Werner, "Katholischer Kirchenatlas" (Freiburg im Br, 1888.); Idem, "Katholischer Missionsatlas" (2nd ed, ibid, 1885..); McClure, "Ecclesiastical Atlas" (London, 1883); Heussi dan Mulert, "Atlas zur Kirchengeschichte" (Tübingen, 1905); lihat juga direktori Katolik tahunan dari berbagai negara (Inggris, Irlandia, Skotlandia, Australia, dll) dan baru "Dictionnaire d'Hist. et de geog. Eccles.", diedit oleh Baudrillart, Vogt, dan Rouziès (Paris, 1909 -).
  8. Epigrafi, panduan untuk membaca dan penggunaan metodis dari prasasti pada monumen Kristen. Bekerja pada ilmu ini adalah: Larfeld, "Griechische Epigraphik" dan Hubner, "Römische Epigraphik", baik dalam Iwan Müller "Handbuch der klassischen Altertumskunde", saya (red. 2, Munich, 1892); Reinash, "Traité d'épigraphie grecque" (Paris, 1886); Cagnat, "Cours d'épigraphie latine" (ed 3rd, Paris, 1898.); De Rossi, "Inscriptiones christianæ urbis Romae" I dan II, "Introductio" (Roma, 1861-1888); Le blant, "L'épigraphie chrétienne en Gaule et dans l'Afrique romaine" (Paris, 1890); Idem, "Paléographie des prasasti Latines de la fin du III au VII siècle" (Paris, 1898); Grisar, "Le iscrizioni cristiane di Roma negli inizi del medio evo" di "Analecta Romana" (Roma, 1899).
  9. Christian Arkeologi dan sejarah seni rupa, dari mana siswa belajar cara belajar secara ilmiah dan menggunakan monumen, mereka berhutang terhadap pengaruh Kristen.
  10. Numismatik, ilmu koin dari berbagai negara dan usia. Karena tidak hanya paus tetapi juga banyak uskup, yang pernah memiliki kekuasaan sekuler, menggunakan hak dari mata uang, numismatik milik, setidaknya untuk zaman tertentu, dengan ilmu bantu Sejarah Gereja. Lihat Bonanni, "Numismata Pontificum Romanorum" (3 jilid, Roma, 1699.); "Numismata Pontificum Romanorum et aliarum Ecclesiarum" (Cologne, 1704); Vignolius, "Antiqui dinar Romanorum Pontificum iklan Benedicto XI Paulum III" (2 jilid, Roma, 1709;... Ed baru dengan B. Floravanti, 2 jilid, Roma, 1734-8); Scilla, "Breve Notizia delle Monete pontificie antiche e moderne" (Roma, 1715); Venuti, "Numismata Pontificum Romanorum præstantiora iklan Martino V Benedictum XIV" (Roma, 1744); Garampi, "De nummo argenteo Benedicti III Dissertatio" (Roma, 1749). Untuk kepustakaan lebih lanjut lihat von Ebengreuth, "Allgemeine Münzkunde und Geldgeschichte des Mittelalters und den neueren Zeit" (Munich, 1904) dan dalam Engel dan Serrure, "Traité de numism. Du moyen-âge".
  11. Sphragistics atau ilmu segel (Yun. spragis, segel). Obyeknya adalah studi tentang berbagai segel dan perangko yang digunakan dalam penyegelan surat dan dokumen sebagai jaminan keaslian mereka. Selain karya-karya tersebut di atas di bawah kepandaian diplomatik, lihat Pflugk dan Harttung, "Specimina selecta chartarum Pontificum Romanorum", bagian III, "bula" (Stuttgart, 1887); Idem, "Bullen der Päpste bis zum Ende des XII Jahrh." (Gotha, 1901); Baumgarten, "Aus Kanzlei und Kammer: Bullatores, Taxatores domorum, Cursores" (Freiburg, 1907); Heineccius, "De veteribus Germanorum aliarumque nationum sigillis" (Frankfort, 1719); Grotefend, "Ueber Sphragistik" (Breslau, 1875); Fürst zu Hohenlohe-Waldenburg, "Sphragistische Aphorismen" (Heilbronn, 1882); Ilgen di Meister, "Grundriss der Geschichtswissenschaft", I (Leipzig, 1906).
  12. Lambang, yang mengajarkan siswa cara membaca secara akurat lambang dll, yang digunakan oleh penguasa Gerejawi dan sekuler. Ini sering mengarahkan cahaya pada keluarga tokoh sejarah waktu atau karakter peristiwa tertentu, sejarah monumen keagamaan. Literatur ilmu ini sangat luas. Lihat Brend, "Die Hauptstücke der Wappenkunde" (2 jilid, Bonn, 1841-9.); Idem, "Allgemeine Schriftenkunde der gesammten Wappenwissenschaft"; Seiler, "Geschichte den Heraldik" (Nuremberg, 1884); E. von Sacken, "Katechismus der Heraldik" (5th ed, Leipzig, 1893.); Burke, "Encyclopedia of Lambang" (London, 1878); Davies, "Encyclopedia of Armory" (London, 1904); Pasini-Frassoni, "Essai d'armorial des papes d'après les manuscrits du Vatican et les monumen publik" (Roma, 1906).

Sastra Sejarah Gerejawi


Masyarakat, di antaranya Kristen oleh Penyebar Pertama, memiliki sebuah peradaban yang sangat maju dan sastra yang kaya dalam karya sejarah. Mereka memiliki arti sejarah dan meskipun di jaman Kristen Awal ada sedikit kesempatan untuk perpanjangan karya-karya Sejarah Gerejawi, namun catatan sejarah yang tidak sepenuhnya ada. Perjanjian Baru adalah sebagian besar sejarah, Injil secara harfiah narasi tentang Kehidupan dan Kematian Kristus. Segera terjadi konflik dengan negara Romawi (Kisah Para Rasul) dan tradisi penderitaan Kristen meluas (Kisah Para Martir). Anti-Gnostik (hilang) kerja dari Hegesippus juga berisi informasi sejarah. Korintus disusun pada abad ketiga oleh Julius Africanus dan oleh Hippolytus, beberapa fragmen yang belum ditemukan masih ada. Hal ini hanya selama abad keempat Sejarah Gerejawi. Setiap sinopsis dari bahan yang luas di dalam tiga periode sama dengan tiga periode utama Sejarah Gereja.


Sejarawan Gereja Periode pertama


Eusebius, Uskup Kaisarea di Palestina (meninggal 340) sebagai "Sejarah Bapa Gereja". Berhutang budi kepadanya untuk "Korintus" (PG, XIX) dan "Sejarah Gereja" (ibid., XX; terbaru edisi ilmiah oleh Schwartz dan Mommsen, jilid 2, dalam "Die griechischen christlichen Schriftsteller der drei ersten Jahrhunderte", Berlin, 1903-8). "Sejarah Gereja" adalah hasil dari "Korintus" dan merupakan karya pertama untuk mendapatkan sepenuhnya nama itu. Ini pertama kali muncul di sembilan buku dan menutupi waktu dari kematian Kristus untuk kemenangan Konstantin dan Licinius (312 dan 313). Eusebius kemudian menambahkan buku kesepuluh, yang membawa narasi untuk kemenangan Constantine atas Licinius (323). Dia memanfaatkan banyak monumen Gerejawi dan dokumen, tindakan Para Martir, surat-surat, kutipan dari tulisan Kristen awal, daftar uskup dan sumber-sumber yang sama, sering mengutip aslinya panjang lebar sehingga karyanya mengandung bahan yang sangat berharga tidak di tempat lain diawetkan. Oleh karena itu nilai yang besar, meskipun tidak untuk kelengkapan ataupun ketaatan karena proporsi dalam lawatan subjek-materi. Juga tidak ada cara yang terhubung dan sistematis di Sejarah Gereja Kristen mula-mula. Hal ini tidak ada tingkat yang kecil pembenaran dari agama Kristen, meskipun penulis tidak bermaksud terutama seperti itu; adalah mustahil, namun, untuk setiap Sejarah Sejati Gereja tidak menunjukkan sekaligus Asal Ilahi yang terakhir dan kekuatan tak terkalahkan. Eusebius telah sering dituduh pemalsuan yang disengaja dari kebenaran, tapi cukup adil; itu dapat diterima, bagaimanapun bahwa dalam menilai orang atau fakta ia tidak ada sepenuhnya. Di sisi lain, ia telah benar dikecam karena atau keberpihakan ke arah Konstantinus Agung dan paliatif tentang kesalahan yang terakhir ("Vita Constantini" di PG, XX, 905 sqq;.. Ed ilmiah terbaru Heikel, "Eusebius 'Werke" , I, Leipzig, 1902, dalam "Die griech, Christl. Schriftsteller der ersten drei Jahrhunderte"). Dalam biografinya kaisar besar, Eusebius, harus diingat, berusaha untuk menuangkan dalam cahaya yang paling menguntungkan sentimen Kristen petobatan kekaisaran dan jasa besar kepada Gereja Kristen. Sebuah risalah sejarah singkat Eusebius, "On the Martyrs of Palestine", juga telah diawetkan.
Sejarawan Kristen yang besar ini menemukan beberapa peniru pada paruh pertama abad kelima; bagaimanapun harus disesalkan bahwa dua pertama narasi umum tentang Sejarah Gereja setelah Eusebius telah hilang - yaitu "Christian History" dari pendeta Philip dari Side di Pamfilia (Philippus Sidetes) dan "Sejarah Gereja" dari Arian Philostorgius. Tiga Sejarah Gerejawi awal lainnya menulis tentang periode ini juga hilang (penatua Hesychius Yerusalem (wafat 433), Apollinarian, Timotheus Berytus dan Sabinus dari Heraclea). Sekitar pertengahan abad kelima "Sejarah Gereja" dari Eusebius dilanjutkan secara bersamaan oleh tiga penulis, bukti penghargaan dimana karya ini sebagai "Sejarah Bapa Gereja" diadakan antara ecclesiastics ilmiah. Ketiga lanjutan telah mencapai kita. Yang pertama ditulis oleh Socrates, seorang advokat (Scholasticus) Konstantinopel, yang dalam "Sejarah Gereja" nya (PG, lxvii, 29-842;. Ed Hussey, Oxford, 1853, He expressly (I, 1) panggilan kelanjutan dari karya Eusebius, menjelaskan dalam tujuh buku periode 305 (Abdikasi Diocletian) ke 439. ini adalah sebuah karya bernilai tinggi. The author is honest, menunjukkan ketajaman kritis dalam penggunaan sumber-sumbernya dan memiliki gaya yang jelas dan sederhana. Setelah dia dan sering memanfaatkan sejarahnya, datang Hermias Sozomenus (atau Sozomen), juga seorang advokat di Konstantinopel, "Sejarah Gereja" di sembilan buku terdiri dari periode 324-425 (PG, lxvii, 834-1630; ed . Hussey, Oxford, 1860), tetapi lebih rendah daripada yang dari Socrates. Kedua penulis ini dikalahkan oleh Theodoret, Uskup Cyrus (meninggal sekitar 458) dalam "Sejarah Gereja" nya (PG, lxxxii, 881-1280, red. Gaisford, Oxford, 1854), kelanjutan dari pekerjaan dari Eusebius menjelaskan dalam lima buku periode dari awal Arianisme (320) ke awal masalah Nestorian (428). Selain tulisan-tulisan pendahulunya, Socrates dan Sozomen, ia juga menggunakan orang-orang dari sarjana Latin Rufinus dan menenun banyak dokumen menjadi jelas narasi yang ditulisnya. Theodoret menulis juga "Sejarah Para Biarawan" (PG, lxxxii, 1283-1496), dimana ia menetapkan kehidupan tiga puluh pertapa terkenal dari Orient. Seperti yang terkenal "History of the Bapa Suci" ("Historia Lausiaca", yang disebut dari satu Lausus kepada siapa buku ini didedikasikan oleh Palladius yang ditulis sekitar 420, Migne, PG, XXXIV, 995-1278, Butler, "The History Lausiac dari Palladius ", Cambridge, 1898), karya Theodoret adalah salah satu sumber utama untuk sejarah monastisisme Oriental. Theodoret juga menerbitkan "Compendium of Heretical Falsehoods", yaitu sejarah singkat ajaran menyimpang dengan bantahan terhadap masing-masing (PG, LXXXIII, 335-556). Bersama dengan sejenis "Panarion" St Epiphathus (PG, XLI-XLII), ia menawarkan bahan penting untuk siswa dari ajaran awal penyimpangan.
Selama abad keenam sejarawan ini menemukan continuators lainnya. Theodorus Lector menyusun ringkasan singkat (belum diedit) dari karya-karya yang disebutkan di atas tiga continuators dari Eusebius: Socrates, Sozomen dan Theodoret. Dia kemudian menulis dalam dua buku kelanjutan independen ringkasan ini sejauh pemerintahan Kaisar Justin I (518-27); hanya fragmen karya ini telah mencapai kita (PG, LXXXVI, I, 165-228). Zacharias ahli pidato, pada awalnya advokat di Berytus di Phoenicia dan kemudian (setidaknya dari 536) Uskup Mitylene di Pulau Lesbos, while yet a layman, satu Sejarah Gerejawi yang menggambarkan periode 450-491, tetapi sebagian besar diambil dengan pengalaman pribadi dari penulis di Mesir dan Palestina. Sebuah versi Siria dari pekerjaan ini adalah masih ada buku-buku III-VI dari Sejarah Syriac Universal, sementara ada juga masih ada beberapa bab dalam versi Latin (Laud, "Anecdota Syriaca", Leyden, 1870, PG, lxxv, 1145-1178; Ahrens dan Kruger, "Die sogennante Kirchengeschichte des Zacharias ahli pidato", Leipzig, 1899). Terlepas dari sejarah ini, kecenderungan ke arah Monofisitisme juga terlihat dari biografinya patriark Monofisit, Severus dari Antiokhia dan dari biografinya tentang biarawan Isaias, dua karya yang masih ada dalam versi Syria (Laud, op cit, 346.. - 56, mengedit "Kehidupan Isaias", dan Spanuth, Göttingen, 1893, "Kehidupan Severus."; cf ​​Nau di "Revue de l'orient Chrétien", 1901, hlm 26-88). Lebih penting lagi adalah "Sejarah Gereja" dari Evagrius Antiokhia, yang meninggal sekitar akhir abad keenam. Karyanya merupakan kelanjutan dari Socrates, Sozomen dan Theodoret dan memperlakukan dalam enam buku periode 431-594. Hal ini didasarkan pada sumber yang baik dan meminjam dari sejarawan profan tapi kadang-kadang terlalu mudah percaya Evagrius. Untuk Nestorianisme dan Monofisitisme Namun, karyanya layak diperhatikan (PG, LXXXVI, I, 2415-886;. Edd Bidez dan Parmentier dalam "Teks Byzantium" oleh JB Bury, London, 1899). Di antara sejarah milik penutupan kuno Graeco-Romawi, disebutkan secara khusus adalah karena Chronicon Paschale, disebut demikian karena Paskah atau Easter canon membentuk dasar dari kronologi Kristennya (PG, XCII). Sekitar setahun 700 yang Monophysite uskup, John of Nikiû (Mesir) menyusun kronik universal; notitiœ yang memiliki nilai yang besar untuk abad ketujuh. Babad ini telah diawetkan dalam versi Ethiopia ("Chronique de Jean, évêque de Nikiou", publ. Par. H. Zotenberg, Paris, 1883). Zotenberg percaya bahwa pekerjaan aslinya ditulis dalam bahasa Yunani dan kemudian diterjemahkan; Nöldeke ("Gottinger gelehrte Anzeigen", 1881, 587 sqq.) Berpikir itu lebih mungkin bahwa aslinya adalah Koptik. Untuk Aleksandria Cosmas, yang dikenal sebagai "Indian Voyager" kita berhutang "Topografi" Kristen bernilai besar pada geografi Gerejawi (ed. Montfaucon, "Collectio nova partum et Scriptor græc.", II, Paris, 1706; diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh McCrindle, London, 1897). Nilai yang besar juga untuk geografi gereja adalah "Notitiae episcopatuum" (Taktika), atau daftar patriarki tersebut, metropolitan, dan Uskup melihat Gereja Yunani ("Hieroclis Synecdemus et Notitiae græcæ episcopatuum", ed Parthey, Berlin, 1866.; "Georgii Cyprii Descriptio orbis Romani", ed. Geizer, Leipzig, 1890). Koleksi yang paling penting dari sejarawan Yunani Gereja Awal adalah bahwa dari Henri de Valois dalam tiga jilid folio (Paris, 1659-1673; ditingkatkan dengan W. Reading, Cambridge, 1720); mengandung Eusebius, Socrates, Sozomen, Theodoret, Evagrius, dan fragmen Philostorgius dan Theodorus Lector.
Tulisan-tulisan kuno Suriah, ecclesiastico-historis, Kisah Bunga terutama Para Martir dan Himne untuk Para Kudus ("Acta Martyrum et sanctorum", ed Bedjan, Paris, 1890 -.). "Chronicle of Edessa", berdasarkan sumber-sumber kuno, ditulis pada abad keenam (ed. Assemani, "Bibliotheca orientalis", I, 394). Pada abad yang sama Monophysite, Uskup John dari Efesus, menulis satu Sejarah Gereja, tetapi hanya bagian ketiga (571-586) yang diawetkan (ed. Cureton, Oxford, 1853;. Tr, Oxford, 1860). Ekstrak panjang dari bagian kedua ditemukan dalam sejarah Dionysius dari Telmera. Karyanya meliputi tahun 583-843 (fragmen di Assemani, "Bibliotheca orientalis", II, 72 sqq.). Di antara Armenia kita bertemu dengan versi Yunani dan karya Syria. Babad Armenia asli yang paling penting dari karakter ecclesiastico-historis berasal dari Musa Chorene, seorang tokoh sejarah dari abad kelima. Penulis "Sejarah Greater Armenia" menyebut dirinya Moses dari Chorene dan mengklaim telah hidup pada abad kelima dan telah menjadi murid yang terkenal St Mesrop (qv). Self-kesaksian kompilator harus ditolak, karena pekerjaan membuat penggunaan sumber dari abad keenam dan ketujuh, dan tidak ada jejak itu dapat ditemukan dalam literatur Armenia sebelum abad kesembilan. Mungkin, karena itu, ia berasal sekitar abad kedelapan. Dalam naskah yang dikenal pekerjaan berisi tiga bagian: "Silsilah Greater Armenia" meluas ke Dinasti Arsacides, "Periode Tengah dari Silsilah kami" kematian St Gregorius Illuminator, dan "End of History yang Negara kita "(. untuk kejatuhan Arsacides Armenia ed. Amsterdam, 1695, Venice, 1881, terjemahan Perancis di Langlois," Koleksi des historiens Anciens et modernes de l'Armenie ", 2 jilid, Paris, 1867-9) . Pada Abad Pertengahan masih ada masih ada bagian keempat. Pekerjaan tampaknya berada di seluruh diandalkan. Sejarah kuno, turun ke abad kedua atau ketiga setelah Kristus, didasarkan pada legenda populer. Sejarawan Armenia lain adalah St Elishé.
Komprehensif karya ecclesiastico-historis muncul di Barat Latin lambat di Timur Yunani. Awal pertama ilmu sejarah terbatas pada terjemahan dengan tambahan. Dengan demikian St Jerome menerjemahkan "Chronicle" dari Eusebius dan terus turun ke 378 Pada saat yang sama ia membuka bidang khusus, Sejarah Sastra Kristen, dalam bukunya "De viris illustribus".; ("Chronicon", ed Schoene, 2 jilid, Berlin, 1866-1875;.. ".. De vir sakit", ed Richardson, Leipzig, 1896.). Sekitar 400 "Sejarah Gereja" dari Eusebius diterjemahkan oleh Rufinus yang menambahkan Sejarah Gereja 318-395 dalam dua buku baru (X dan XI). Kelanjutan Rufinus itu adalah dirinya segera diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Edisi terbaru adalah dalam koleksi Berlin tulisan Yunani Kristen yang disebutkan di atas dalam hubungan dengan Eusebius. Recension Latin St Jerome dari "Chronicle" dari Eusebius diikuti kemudian oleh banyak sejarah lainnya, di antaranya dapat disebutkan karya-karya Prosper, Idacius, Marcellinus, Victor of Tununum, Marius dari Avenches, Isidore of Seville, dan Mulia Bede. Di Barat, sejarah independen pertama Wahyu dan Gereja ditulis oleh Sulpicius Severus, yang diterbitkan pada tahun 403 nya "Historia (Chronica) Sacra" dalam dua buku; mencapai dari awal dunia untuk sekitar 400 (PL, XX, red. Hahn, Wina, 1866). Ini adalah risalah singkat dan berisi informasi sejarah kecil. Beberapa saat kemudian, Orosius menulis nya "Historia Adversus Paganos" dalam tujuh buku - satu Sejarah Universal dari sudut pandang Apologis Kristen. Ini dimulai dengan banjir dan turun ke 416 Tujuan Orosius adalah untuk membantah tuduhan sesat bahwa kemalangan besar dari Kekaisaran Romawi adalah karena Kemenangan Kristen (PL, XXXI, red. Zangemeister, Vienna, 1882).. Dengan tujuan yang sama dalam tampilan, tetapi dengan konsep yang jauh megah dan mulia, St Agustinus menulis bukunya yang terkenal "De civitate Dei", yang terdiri antara 413 dan 428 dan diterbitkan dalam beberapa bagian. Ini adalah filosofi minta maaf sejarah dari sudut pandang Wahyu Ilahi. Karya ini penting bagi Sejarah Gereja karena banyak sejarah dan arkeologi penyimpangannya (ed. Dombart, 2nd ed., Leipzig, 1877). Sekitar pertengahan abad keenam, Cassiodorus menyebabkan karya Socrates, Sozomen dan Theodoret untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, dan kemudian digabung versi ini menjadi satu narasi lengkap dengan judul "Historia tripartita" (PL, LXIX-LXX). Bersama dengan karya-karya Rufinus dan Orosius, itu adalah salah satu sumber utama dari mana melalui Abad Pertengahan orang-orang Barat menarik pengetahuan mereka tentang Sejarah Gereja mula-mula. Bahan yang kaya Sejarah Gereja juga terkandung dalam sejarah nasional beberapa orang Barat. ".. Mon Germ Hist.: Auct antiquissimi" dari "History of the Goth", yang ditulis oleh Cassiodorus, "De origine actibusque Getarum" (ed. Mommsen dalam, V., Berlin, 1882 ). Terutama penting adalah "Sejarah Frank" dalam sepuluh buku oleh Gregory dari Tours, yang sampai ke 591 (ed. Arndt, "Mon Germ Hist:... Scriptores rerum Meroving", I, Hanover, 1884-5). Gregorius menulis juga "Liber de vita partum", sebuah karya berjudul "Di Gloria Martyrum", dan buku "De virtutibus (yaitu mukjizat) S. Juliani" dan "De virtutibus S. Martini" (ed. cit., Pt. II, ad. Krusch). Pada awal abad ketujuh St Isidore of Seville menyusun "Chronicle of Goth Barat" ("Historia de regibus Gothorum, Wandalorum, Suevorum", ed. Mommsen, "Chronica minora", II 241-303). Beberapa sejarah serupa lainnya, dari keempat ke abad ketujuh, yang diedit oleh Mommsen dalam "Monumenta Germaniæ Historica: Auctores Antiquissimi" di bawah judul "Chronica minora".

Sejarawan Gereja Periode kedua


Periode kedua dari Sejarah Gereja, menghasilkan literatur sejarah berlebihan, meskipun itu milik lebih khusus untuk Sejarah Gereja Universal. Karya yang ditangani lebih sering dengan negara-negara tertentu, Keuskupan dan Biara; Sejarah secara umum jarang terjadi. Selain itu karena posisi dominan Gereja di antara masyarakat Barat, Gerejawi dan sejarah profan berada di jaman ini erat terjalin.
Dalam Sejarah Gereja Timur hampir sepenuhnya diidentifikasi dengan sejarah Istana Kekaisaran karena hubungan erat Negara dan Gereja. Untuk alasan yang sama sejarah Bizantium dari Justinian Agung untuk kehancuran kerajaan di pertengahan abad kelima belas mengandung banyak informasi berharga tentang Sejarah Gereja Yunani. Yang paling penting dari mereka adalah: "chronography dari Theophanes Isaacius" (ed. de boor, 2 jilid, Leipzig, 1885.); the "Chronicles" dari Georgius Syncellus, George Hamartolus, Nicephorus, Patriark Konstantinopel, Constantine Porphyrogenitus, John Malalas, Procopius, Paulus Silentiarius, karya-karya Leo Diaconus, Anna Comnena, Zonaras, Georgius Cedrenus, yang kita dapat menambahkan Nicetas Choniates, Georgius Pachymeres, Nicephorus Gregoras dan John Cantacuzenus. Karya-karya sejarah Bizantium pertama kali diterbitkan dalam koleksi besar di Paris (1645-1711) dengan judul, "Byzantinæ Historiae Scriptores". Edisi baru, lebih baik dan lebih lengkap, dieksekusi oleh Niebuhr, Becker, Dindorf dan rekan lainnya dalam volume empat puluh (Bonn, 1828-78) dengan judul, "Corpus Scriptorum Historiae Byzantinæ". Sebagian besar tulisan-tulisan ini juga dapat ditemukan di Patrologia graeca dari Migne. Satu-satunya sejarawan Gereja sejati periode Bizantium yang layak adalah Nicephorus Kalistus, yang berkembang pada awal abad keempat belas.
Dalam Syriac kita memiliki babad, di atas Dionysius dari Telmera. Menjelang akhir abad kedua belas Michael Kandis, Patriark dari Jacobites (meninggal 1199), menulis babad dari penciptaan hingga 1196. Ini adalah sumber penting bagi Sejarah Gereja Syriac setelah abad keenam, terutama untuk sejarah Perang Salib. Karya ini telah mencapai kita dalam versi Armenia abad ketiga belas; terjemahan Bahasa Prancis diterbitkan oleh Langlois, "Chronique de Michel le Grand" (Venice, 1868). Patriark lain dari Jacobites, Gregory Abulpharagius atau Bar-Hebræus, Maphrian (yaitu primata) dari Gereja Siro-Jacobite (1266-1286), juga menulis sebuah kronik universal dalam tiga bagian. Kita juga harus menyebutkan "Bibliotheca" (Myriobiblon) dari Photius (wafat 891), dimana sekitar 280 penulis dijelaskan dan bagian yang dikutip dari mereka (ed. Becker, Berlin, 1834) dan pekerjaan "On Heresies" St Yohanes Damaskus.
Sepanjang periode ini Barat pemberian materi berlimpah untuk Sejarah Gereja, beberapa karya yang benar-benar bersejarah. Namun kehidupan publik bergerak di kalangan sempit; akibatnya kecenderungan spekulatif memerintah di pusat-pusat aktivitas intelektual; ecclesiastico-history karya dari karakter umum diberikan dengan semangat jaman dan selama periode dari kedelapan abad kelima belas; Barat menawarkan hanya beberapa karya kelas ini. Pada abad kesembilan, Haymo, Uskup Halberstadt (wafat 853), menulis Sejarah Gerejawi dari empat abad pertama, mengambil Rufinus sebagai otoritas utamanya ("De christianarum rerum Memoria", ed Boxhorn, Leyden, 1650;. PL , CXVI). Selanjutnya dengan bantuan versi Latin dari Georgius Syncellus, Nicephorus dan terutama dari Theophanes, yang ia tambahkan materi sendiri, Romawi Abbot Anastasius Bibliothecarius (Pustakawan) menulis "Sejarah Gereja" dengan waktu Leo Armenia, yang meninggal pada 829 (Migne, PG, CVIII). Sekitar pertengahan abad kedua belas, Ordericus Vitalis, Abbot dari St Evroul di Normandy, menulis "Historia ecclesiastica" di tiga belas buku; mencapai ke 1.142 dan nilai utama untuk sejarah Normandia, Inggris dan Perang Salib (ed. A. Le Prevost, 5 jilid., Paris, 1838-1855). The Dominican Bartholomew of Lucca, disebut juga Ptolemaeus de Fiadonibus (meninggal 1327), meliputi periode yang lebih lama. Karyanya dalam dua puluh empat buku sampai ke 1313-1361 oleh Henry dari Diessenhofen (ed. Muratori, "Scriptores Rerum Italicarum", XI). The "Flores chronicorum seu Catalogus Pontificum Romanorum" dari Bernard Guidonis, Uskup Lodève (meninggal 1331), dapat dihitung di antara karya-karya tentang Sejarah Gereja Universal (sebagian diedit oleh Mai, "Spicilegium Romanum", VI, Muratori, op . cit, III,. Bouquet, ". Script rer empedu..", XXI). Karya sejarah yang paling luas dan relatif yang terbaik selama periode ini adalah "Summa Historialis" St Antoninus. Ini berkaitan dengan profan dan Sejarah Gerejawi dari penciptaan hingga 1457.
Sejarah nasional yang muncul menjelang akhir periode terakhir (dari Cassiodorus, Jordanis, Gregory dari Tours), diikuti oleh karya-karya serupa memberikan sejarah bangsa-bangsa lain. Mulia Bede penulisnya mengagumkan "Historia ecclesiastica Gentis Anglorum", digambarkan dalam lima buku untuk sejarah Inggris dari penaklukan Romawi 731, meskipun mengobati terutama dari peristiwa setelah misi St Agustinus di 596 (ed. Stevenson, London, 1838; ed . Hussey, Oxford, 1846). Paulus Warnefrid (Diaconus) menulis sejarah sesama-Lombardia (Historia Langobardorum) 568-733; masih tetap menjadi sumber utama bagi sejarah umatNya. Seorang penulis tak dikenal sampai ke 774 dan pada abad kesembilan rahib Erchembert menambahkan sejarah para bankir Beneventum ke 889 (ed. Waitz di "Mon Germ Hist:...... Rer Script Langob et Ital", Hanover 1877). Paulus juga menulis sejarah Para Uskup dari Metz ("Gesta episcoporum Mettensium", iklan di "Mon Germ Hist:... Script"., II) dan karya-karya sejarah lainnya. Skandinavia Utara menemukan sejarawan gereja di Adam dari Bremen; ia mencakup periode antara 788 dan 1072 dan karyanya sangat penting khusus untuk sejarah Keuskupan Hamburg-Bremen ("Gesta Hamburgensis Ecclesiae Pontificum", ed Lappenberg dalam. "Mon Germ Hist:... Script", VII , 276 sqq.). Flodoard (wafat 966) menulis sejarah Keuskupan Agung Reims (Historia Ecclesiae Remensis) ke 948, sumber yang sangat penting bagi Sejarah Gereja Perancis saat itu ("Mon Germ.. Hist. Script.", XIII, 412 sqq.). Sejarah Gerejawi dari Jerman Utara digambarkan oleh Albert Crantz, kanon Hamburg (meninggal 1517), dalam bukunya "Metropolis" atau "Historia de ecclesiis sub Carolo Magno di Saxonia instauratis" (yaitu 780-1504, Frankfort, 1576 dan sering dicetak ulang). Di antara karya-karya sejarah khusus periode ini Gereja Barat kita harus menyebutkan "Liber Pontificalis", koleksi penting biografi kepausan yang mengambil proporsi yang lebih besar setelah abad keempat, kadang-kadang sangat panjang di abad kedelapan dan kesembilan, dan melalui berbagai lanjutan mencapai kematian Martin V tahun 1431 (ed. Duchesne, 2 jilid, Paris, 1886-1892;.. ed Mommsen, I, memanjang sampai 715, Berlin 1898). Jerman, Italia, Perancis, dan Inggris kronik, sejarah, dan biografi dari jaman ini sangat banyak. Para penulis yang lebih penting dari sejarah adalah: Regino dari Prüm, Hermannus contractus, Lambert dari Hersfeld, Otto dari Freising, William dari Tirus, Sigebert of Gemblours. Koleksi modern yang paling penting, dimana pembaca dapat menemukan sejarah dan sejarah dari berbagai negara-negara Kristen, adalah sebagai berikut: untuk Inggris: "Rerum Britannicarum medii ævi Scriptores, atau Korintus dan Memorial of Great Britain", aku sqq. (London, 1858 -); untuk Belgia: "Koleksi de Chroniques Belges", aku sqq. (Brussels, 1836 -); "Koleksi par l'Académie des belge chroniqueurs et trouvères Belges publ.", Aku sqq. (Brussels, 1863 -); "Recueil de chroniques publié par la Société d'emulasi de Bruges" (56 jilid, Bruges, 1839-1864.); Perancis: (. Paris, 1738 -; ed baru dengan L. Delisle, Paris, 1869 -) Bouquet, "Recueil des historiens des Gaules et de la France"; untuk Jerman: ". Monumenta Germ sejara: Scriptores", aku sqq. (Hanover dan Berlin, 1826 -); untuk Italia: Muratori, "Rerum Italicarum Scriptores præcipui" (. 25 jilid, Milan, 1723-1751); Idem, "Antiquitates Italicæ medii ævi" (6 jilid, Milan, 1738-1742.); untuk Spanyol: Florez, "España sagrada" (. 51 jilid, Madrid, 1747-1886); (. 8 jilid, Wina, 1855-1875) untuk Austria:: "Fontes rerum Austriacarum Scriptores"; untuk Polandia: Bielowski, "Monumen Poloniæ sejara" (.. 2 jilid, Lemberg, 1864-1872; dilanjutkan oleh Academy of Cracow, III sqq, Cracow, 1878 -); "Scriptores rerum polonicarum" (ibid., 1873 -); (. 9 jilid, Copenhagen, 1772-8): untuk Denmark dan Swedia Langebek, "Scriptores rerum Danicarum medii ævi"; Fant, "Scriptores rerum Suecicarum medii ævi" (3 jilid, Upsala, 1818-1876.); Rietz, "Scriptores Suecici medii ævi" (3 jilid., Lund, 1842). Koleksi penting lainnya adalah: L. d'Achéry, "Spidilegium veterum aliquot scriptorum" (. 13 jilid, Paris, 1655); Mabillon, "Kisah Sanctorum Ordinis S. Benedicti" (9 jilid, Paris, 1668.); "Kisah Sanctorum Bollandistarum" (lihat BOLLANDISTS). Panduan terbaik untuk sumber-sumber sejarah Abad Pertengahan adalah Potthast, "Bib versi medii ævi:.. Wegweiser durch die Geschichtswerke des europäischen Mittelalters bis 1500" (Berlin, 1896).

Sejarawan Gereja Periode ketiga


Di abad keenam belas, era baru Sejarah Gerejawi, menyadari di bawah impuls segar dan kuat menyempurnakan metode-metode penyelidikan dan narasi dan diasumsikan tempat sehari-hari lebih penting dalam kehidupan intelektual dari kelas terdidik. Kritik sejarah bergandengan tangan dengan pertumbuhan pendidikan humanis. Selanjutnya sebelum kesaksian mereka diterima, sumber peristiwa sejarah diperiksa untuk keaslian mereka. Meningkatkan keintiman dengan para penulis kuno Graeco-Romawi juga dari usia Kristen primitif, mengembangkan arti historis. Kontroversi keagamaan yang diikuti munculnya Protestan juga insentif untuk penelitian sejarah. Percetakan dimungkinkan distribusi yang cepat dari semua jenis tulisan, sehingga sumber-sumber Sejarah Gereja segera menjadi dikenal dan dipelajari di kalangan luas dan karya-karya baru pada Sejarah Gereja bisa beredar ke segala arah. Pada periode ini juga perkembangan Sejarah Gereja dapat dipertimbangkan dalam tiga divisi:

Pertengahan Abad keenam belas

hingga Pertengahan Abad ketujuh belas


Karya besar pertama pada Sejarah Gereja yang muncul pada periode ini terdiri dalam kepentingan Lutheranisme. Mathias Flacius, disebut Illyricus (yang berasal dari Illyria), bersatu dengan lima Lutheran lainnya (John Wigand, Mathias Judex, Basilius Faber, Andreas Corvinus, dan Thomas Holzschuher), untuk menghasilkan pekerjaan yang luas, yang harus menunjukkan Sejarah Gereja sebagai permintaan maaf untuk kekerasan pada Lutheranisme. (Centuriators of Magdeburg) dalam "Centuriæ" (Kelembagaan Gereja Roma muncul sebagai karya setan dan kegelapan) secara alami oleh karena itu kita tidak bisa berharap dari para penulis setiap estimasi tujuan sebenarnya dari Gereja dan perkembangannya. Pekerjaan disebut banyak refutations, yang paling bisa ditulis oleh Card. CAESAR Baronius. Didesak oleh St Filipus Neri, ia melakukan pada tahun 1568 tugas memproduksi Sejarah Gereja, yang dengan ketekunan luar biasa itu dibawa di akhir abad kedua belas dan diterbitkan dengan judul, "Annales ecclesiastici" (12 jilid., Roma, 1588-1607). Banyak edisi kelanjutan telah muncul. (Baronius.)

Pertengahan Abad ketujuh belas

hingga Akhir Abad kedelapan belas


Sejarawan Gereja Katolik


Dari pertengahan abad ketujuh belas penulis Perancis yang aktif dalam penelitian ecclesiastico-historis. Tulisan-tulisan para Bapa Gereja dan sumber-sumber kuno lainnya yang diterbitkan dalam edisi yang sangat baik, ilmu-ilmu bantu sejarah yang baik dibudidayakan. Kepada Antoine Godeau, Uskup Vence, untuk "Histoire de l'église" sampai ke abad kesembilan (5 jilid, Paris, 1655-1678;. Beberapa edisi lain telah muncul dan pekerjaan itu diterjemahkan ke dalam bahasa Italia dan Jerman ) dan ke Oratorian Cabassut untuk "Historia ecclesiastica" (Lyons, 1685). Meskipun Jesuit Louis Maimbourg tidak menulis Sejarah Gereja terus menerus ia menerbitkan sejumlah karya (Paris, 1673-1683) pada berbagai tahapan penting dalam Kehidupan Gereja (Arianisme, Ikonoklasme, Yunani Skisma, perjuangan antara Paus dan Kaisar, Western Skisma, Lutheranisme, dan Calvinisme). Di antara sejarawan besar Gereja periode ini yang karya-karyanya memiliki nilai permanen, tiga nama menonjol. Yang pertama adalah Noël Alexandre (Natalis Alexander) a Dominika. Yang kedua Claude Fleury, untuk kepentingan khususnya dari pembaca terdidik, menulis "Histoire ecclésiastique" dalam 20 volume, mencapai 1.414 (Paris, 1691-1720). Dia mengadopsi seluruh sikap Gallicanism moderat (lihat FLEURY). Yang ketiga, salah satu sejarawan Gereja terbesar Perancis adalah Louis Sebastien Le Nain de Tillemont. Untuk ini harus ditambahkan Bossuet besar, yang dalam "Discours sur l'histoire universelle" nya (Paris, 1681), dilawat dalam mode mengagumkan Sejarah Gereja sejauh Charlemagne. Filosofi Sejarah Kristen yang ditemukan dalam dirinya eksponen jenius luhur. Dia "Histoire des variasi des Eglises protestantes" (2 jilid., Paris, 1688) menjelaskan perubahan Waldenses, Albigenses, Wyclifites dan Hussit, serta Luther dan Calvin, dibuat dalam ajaran-ajaran dasar Gereja. Ini sejarawan Gereja Perancis abad ketujuh belas jauh lebih unggul penerus mereka dalam delapan belas. Beberapa penulis Perancis, memang benar menghasilkan narasi elegan, jika kita mempertimbangkan bentuk luar saja, tetapi mereka buruk dibandingkan dengan pendahulu mereka dalam kritik sumber dan akurasi ilmiah. Berikut ini adalah penting: François Timoleon de Choisy, "Histoire de l'Église" (11 jilid, Paris, 1706-1723.); Bonaventure Racine (Jansenist), "Abrégé de l'histoire ecclesiastique" (13 jilid, Cologne, properly Paris, 1762-7.); Gabriel Ducreux, "Les siècles chrétiens" (. 9 jilid, Paris, 1775;.. Ad 2 di 10 jilid, Paris, 1783). Sirkulasi terluas yang didapat oleh "Histoire de l'Église" dari Bérault-Bercastel.
Berikutnya ke Prancis Italia, selama periode ini menghasilkan jumlah terbesar dari sejarawan Gereja yang sangat baik, terutama, namun dalam Arkeologi Kristen dan departemen khusus sejarah. Nama-nama Para Kardinal: Noris, Bona, dan Pallavicini, Uskup Agung Mansi dari Lucca, pustakawan Vatikan Zacagni, pelajar Ughelli, Roncaglia, Bianchini, Muratori, saudara Pietro dan Girolamo Ballerini, Gallandi, dan Zaccaria, cukup untuk menunjukkan karakter dan tingkat penelitian sejarah yang dilakukan di semenanjung Italia pada abad kedelapan belas. Di antara Sejarah Gereja Universal, kita dapat menyebutkan "Storia Ecclesiastica" dari Dominika Giuseppe Orsi Agostino. Satu Sejarah Gereja proporsi sama besar dilakukan oleh Oratorian Sacarelli. Sebuah karya ketiga, bersifat lebih komprehensif dan mencapai ke awal abad kedelapan belas, ditulis oleh Dominika Perancis, Hyacinthe Graveson, penduduk di Italia, "Historia ecclesiastica variis kolokium digesta" (12 jilid, Roma, 1717. - ). Mansi dalam dua volume untuk 1760. Kompendium Sejarah Gereja Universal, banyak dibaca bahkan di luar Italia, ditulis oleh Augustinian Lorenzo Berti ("Breviarium Historiae ecclesiasticæ", Pisa dan Turin, 1761-8), tiga volume "Dissertationes historicæ" (Florence, 1753-6); Carlo Sigonio, yang memperlakukan tiga abad pertama (2 jilid, Milan, 1758.), Dan Giuseppe Zola, yang memperlakukan periode yang sama dalam bukunya "Commentarium de rebus ecclesiasticis" (3 jilid, Pavia, 1780 -.), Dan yang juga menulis "Prolegomena komentar. de rebus Eccl." (ibid., 1779).
Di Spanyol, Sejarah Gereja Universal ditemukan ada perwakilan di antara para penulis Gerejawi abad kedelapan belas. Di sisi lain, Augustinian Enrique Florez dimulai pada periode ini karya monumental tentang Sejarah Gerejawi dari Spanyol yang terkenal "España sagrada", yang pada kematian penulis pada tahun 1773 telah mencapai mencapai volume dua puluh sembilan. Manuel Risco melanjutkan ke volume empat puluh dua dan sejak kematiannya hal itu telah dilakukan sampai dekat hampir selesai, volume 51 muncul pada tahun 1886. Negara-negara lain di Eropa juga gagal untuk menghasilkan karya-karya asli pada Sejarah Gereja Universal. Kondisi umat Katolik tentang waktu ini terlalu menguntungkan untuk memungkinkan usaha sejarah ilmiah yang luas. Beberapa karya khusus mengagumkan muncul di Jerman, monograf keuskupan tertentu dan biara-biara, tapi Sejarah Gereja Universal tidak dibudidayakan sampai Joseph II telah dieksekusi, reformasinya studi teologis. Bahkan kemudian muncul hanya ada karya kecil, sebagian besar disarikan dari Sejarah Gereja Pembesar Perancis, sesat, Josephinistic dalam marah dan bermusuhan dengan Roma. Di antaranya adalah Lumper itu "Institutiones Historiae ecclesiasticæ" (Wina, 1790); "Institutiones Historiae Eccl." dari Dannenmeyer (2 jilid, Vienna, 1788.), relatif yang terbaik; ". Relig Sinopsis histor. et Eccles. Kristus." dari Royko (Praha, 1785); "versi Epitome. Eccl." dari Gmeiner (2 jilid., Gratz, 1787-1803) dan karya-karya serupa oleh Wolf, Schmalzfuss, Stoger, Becker, semua dari mereka sekarang sungguh berharga. Juga Belanda hanya memproduksi kompendium, misalnya orang-orang dari Mutsaerts (2 jilid., Antwerp, 1822), Rosweyde (2 jilid., Antwerp, 1622), M. Chefneux ("Eccl Cathol spekulum chronographicum..", 3 jilid., Liège, 1666-1670). Tak perlu menambahkan, di Inggris dan Irlandia kondisi menyedihkan dari umat Katolik tidak mungkin membuat karya ilmiah.

Sejarawan Gereja Protestan


Lama setelah publikasi "Magdeburg Centuries" (lihat di atas) sebelum sarjana Protestan melakukan pelayanan independen yang luas di provinsi Sejarah Gereja. Divisi penting mereka direformed dan Lutheran di satu sisi dan permusuhan dalam negeri antar Lutheran di sisi yang lain. Ketika murid Protestan sedang menyibukkan diri dengan penelitian ecclesiastico-historis, gereja-gereja reformasi memimpin dan dipertahankan ke abad kedelapan belas. Ini berlaku tidak hanya dalam domain sejarah khusus, dimana mereka mengeluarkan publikasi penting (misalnya Bingham "Antiquitates ecclesiasticæ", 1722; karya Grabe, Beveridge, Blondel, Daille, Saumaise, Usher, Pearson, Dodwell, dll) , tetapi juga dalam Sejarah Gereja Universal. Di antara penulis mereka mengenai hal ini harus disebutkan; Hottinger "Historia ecclesiastica Novi Test." (. 9 jilid, Hanover, 1655-1667) diisi dengan kebencian pahit terhadap Gereja Katolik; Jacques Basnage, lawan dari Bossuet ("Histoire de l'Église depuis Jésus-Christ jusqu'à hadir", Rotterdam, 1699); Samuel Basnage, lawan dari Baronius ("Annales politik-Eccles." 3 jilid, Rotterdam, 1706.), Dan Spanheim ("Introductio ad versi et antiquit SACR...", Leyden, 1687; "Historia ecclesiastica", ibid. , 1701). Reformed Churches diproduksi apalagi sejumlah manual dari Sejarah Gereja, misalnya Turettini, "Hist Eccles ringkasan.." (Halle, 1750); Venema, "Institut. Histor. Eccl." (. 5 jilid, Leyden, 1777); Jablonski, "Institut. Versi. Eccl." (2 jilid., Frankfort, 1753). Protestan yang pekerjaannya serupa muncul di Inggris, misalnya Milner, "History of the Church of Christ" (4 jilid, London, 1794.); Murray, "Sejarah Agama" (4 jilid., London, 1794), dan Priestley, "sejarah gereja kristen".
Selama abad ketujuh belas, Lutheran menghasilkan sedikit nilai di bidang Sejarah Gereja, selain banyak digunakan "Eccl Kompendium histor.." oleh Seckendorf dan Böckler (Gotha, 1670-6). Tapi sebuah era baru dalam historiografi Lutheran gerejawi berasal dari Arnold "Unparteiische Kirchen-und Ketzerhistorie" (2 jilid., Frankfort am M., 1699). Penulis pietis ini ramah terhadap semua sekte, tetapi bertentangan dengan Gereja Katolik dan Lutheranisme Ortodoks. Standarnya bukanlah Dogma atau Kitab Suci, tapi subyektif "cahaya internal". Penghakiman tenang ditemukan di Eberhard Weissmann "Introductio dalam memorabilia ecclesiastica Historiae sacræ Novi Test." (2 jilid., Tübingen, 1718). Karya unggul semua penulis Lutheran sebelumnya, baik karena ketelitian dan diksi bermartabat mereka, adalah tulisan-tulisan sejarah Latin dari Yoh. Lor. Mosheim, terutama nya "De rebus kristus. Ante Constantinum Magnum" (Helmstadt, 1753) dan "Institutiones histor. Eccles. Antiquioris et recentioris" (ibid., 1755). Mereka mengkhianati Namun kecenderungan Konsep Rasionalistik Gereja, yang muncul di seluruh sebagai lembaga asal sekulernya "Institutiones" diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan dilanjutkan dengan dua muridnya, J. von einem dan Rud. Schlegel (Leipzig, 1769 -; Heilbronn, 1770 -). Kemajuan selanjutnya dibuat dalam karya Pfaff, kanselir dari Tübingen ("Eccl Institutiones histor..", Tübingen, 1721), dari Baumgarten ("Auszug der Kirchengeschichte", 3 jilid, Halle, 1743 -.), Pertsch ("Versuch einer Kirchengeschichte ", 5 jilid, Leipzig, 1736 -), Cotta (" Versuch einer ausführlichen Kirchenhistorie des neuen Testamentes ", 3 jilid, Tübingen, 1768-1773).. Karya khusus, baik untuk waktu mereka, yang ditulis oleh dua Walchs-Yoh. Georg Walch menerbitkan "Eine Geschichte der Reigionsstreitigkeiten innerhalb und ausserhalb der evangelisch-lutherischen Kirche" dalam dua bagian, masing-masing terdiri dari lima volume (Jena, 1733-9) sementara anaknya Christian Wilhelm menerbitkan panjang "ketzergeschichte", yang volumenya kesebelas sampai ke iconoclasts (Leipzig, 1762-1785). Yang terakhir ini juga menulis "der Religionsgeschichte neuesten Zeit", dimulai dengan Clement XIV (yang Planck menambahkan tiga jilid) juga "Historie der Kirchenversammlungen" (Leipzig, 1759) dan "Historic der Rom. Päpste" (Göttingen, 1758 ). Pekerjaan Lutheran yang paling penting pada Sejarah Gereja Universal adalah bahwa dari J. Mathias Schröckh, murid dari Mosheim dan seorang profesor di Wittenberg: "Christliche Kirchengeschichte bis zur Reformasi" dalam tiga puluh lima volume (Leipzig, 1768-1803), dilanjutkan sebagai "Kirchengeschichte seit der Reformasi "dalam delapan volume (Leipzig, 1803-8), yang Tzschirmer menambahkan dua lainnya (1810-1812). Seluruh pekerjaan, ilmiah tapi terlalu menyebar dan meletakkan penekanan yang berlebihan pada unsur biografi, termasuk empat puluh lima volume dan menutup dengan awal abad kesembilan belas. Sementara rasionalisme sesat abad kedelapan belas telah menyebar luas dan segera mempengaruhi banyak karya Sejarah Gereja. Karya-karya Yoh. Salomon Seniler, sebuah hypercritic percaya, dalam hal ini memegang keunggulan yang tidak diinginkannya "Historiae Eccles selecta kapita." (3 jilid, Halle 1767 -.)., "Versuch eines fruchtbaren Auszuges der kirchengeschichte" (3 bagian, ibid, 1778) dan "Versuch Christlicher Jahrbücber" (2 bagian, Halle, 1782). Kebanyakan orang sejamannya yang lebih atau kurang terbuka rasionalistik dan Sejarah Gereja menjadi kronik skandal (Scandalchronik). Dimanapun penulis melihat hanya tahayul, fanatisme dan nafsu manusia, sedangkan karakter terbesar dan tersuci dari karikatur Sejarah Gereja yang memalukan. Semangat ini sangat karakteristik dengan Spittler, "Grundriss der Gesch. Der Christl. Kirche" dan Henke "Allgem Geschichte der chr. K.."

Abad kesembilan belas


Studi Ecclesiastico-Sejarah, bernasib lebih baik di abad kesembilan belas. Kengerian Revolusi Perancis menyebabkan reaksi yang kuat dan melahirkan semangat yang lebih ideal dalam sastra. Patriotisme dan semangat keagamaan dihidupkan kembali dan diberikan pengaruh yang menguntungkan pada semua kehidupan intelektual. Romantisme menyebabkan apresiasi lebih adil dari dunia Abad Pertengahan Katolik, sementara di semua departemen belajar di sana muncul keinginan sungguh-sungguh untuk bersikap objektif dalam penilaian. Akhirnya, sumber-sumber Sejarah Gerejawi dipelajari dan digunakan dalam semangat baru, hasil dari sebuah kritik sejarah yang lebih pasti dan penetrasi. Hasil umum menguntungkan bagi ilmu sejarah.

Sejarawan Katolik di Jerman


Saat itu di Katolik Jerman, perubahan ini pertama kali terlihat, lebih khusus dalam pekerjaan konversi terkenal, Leopold von Hitung Stolberg. "Geschichte der Religion Jesu Christi" dikeluarkan dalam lima belas volume, empat pertama yang mengandung sejarah Perjanjian Lama dan mencapai 430. Demikian pula, kurang penting "Geschichte der christlichen Kirche" (9 jilid., Ravensburg, 1824 -34) oleh Locherer, agak kritis dan menunjukkan pengaruh Schröckh, masih belum selesai dan dicapai hanya 1.073, yang sangat baik "Geschichte der christlichen Kirche" oleh J. Othmar von Rauschen juga tidak lengkap. Satu ringkasan, serius dan ilmiah dalam karakter, dimulai oleh Hortig, profesor di Landshut, "Handbuch der christlichen Kirchengeschichte". Ia menyelesaikan dua volume (Landshut, 1821 -) dan mencapai Reformasi; volume ketiga, yang membawa pekerjaan ke revolusi Perancis, ditambahkan oleh penggantinya Dollinger. Sarjana ini, yang sayangnya kemudian meninggalkan sikap Katolik dan prinsip hari-hari sebelumnya, unggul semua penulis sebelumnya abad ini. Johann Adam Mohler menulis beberapa karya sejarah khusus dan disertasi merit yang luar biasa. Ceramah pada Sejarah Gereja Universal yang diterbitkan setelah kematiannya oleh muridnya, Benediktin Pius Gams ("Kirchengeschichte", 3 jilid., Ratisbon, 1867). Untuk ini lebih besar dan karya-karya jaman pembuatan, harus ditambahkan beberapa kompendium, beberapa di antaranya seperti Klein ("Historia ecclesiastica", Gratz, 1827), Ruttenstock ("Eccl Institutiones versi..", 3 jilid., Wina, 1832-4) , Cherrier (. "... Pengk Instit versi", 4 jilid, Pestini, 1840 -), adalah ringkasan fakta terbuka; lainnya seperti Ritter ("Handbuch der Kirchengeschichte", 3 jilid, Bonn, 1830;.. 6th ed oleh Ennen, 1861) dan Alzog ("Universalgeschichte der christlichen Kirche", Mains, 1840;. 10th ed oleh FX Kraus, 1882 ) adalah narasi panjang, kritis dan menyeluruh. Periode tertentu atau jaman Sejarah Gerejawi segera menemukan budidaya hati-hati, misalnya by Riffel, "Kirchengeschichte der neuen und neuesten Zeit, vom Anfang der Glaubensspaltung im 16 Jahrhundert." (3 jilid, Mainz, 1841-6.); Damberger, "Synchronistische Geschichte der Kirche und der Welt im Mittelalter" (dalam 15 jilid, Ratisbon, 1850-1863, volume terakhir disunting oleh Rattinger)., Yang mencapai sampai 1378 Dengan Dollinger dan Mohler kita harus peringkat Karl Joseph Hefele, ketiga sejarawan Katolik Jerman yang besar, yang berharga "Konziliengeschichte" benar-benar sebuah karya yang komprehensif tentang Sejarah Gereja Universal;. tujuh jilid pertama dari karya (Freiburg, 1855-1874) mencapai 1.448 Edisi baru dimulai oleh penulis (ibid, 1873 -).; itu dijalankan oleh Knopfler (vole. V-VII), sedangkan Hergenrother (kemudian kardinal) melakukan untuk melanjutkan pekerjaan dan menerbitkan dua volume (VIII-IX, 1887-1890); yang membawa Sejarah Pembukaan Dewan Konsili Trent. Hergenrother adalah sejarawan keempat Gereja Besar Katolik Jerman. Nya "Handbuch der allgemeinen Kirchengeschichte" (3 jilid, Freiburg im B., 1876-1880;. 3rd ed, 1884-6;... 4th ed, direvisi oleh JP Kirsch, 1902 sqq) menunjukkan pengetahuan yang luas dan mendapat pengakuan, bahkan dari Protestan sebagai Sejarah Gereja Katolik yang paling independen dan instruktif. Dalam beberapa tahun terakhir lebih kecil, tapi ilmiah kompendium telah ditulis oleh Brück, Krause Funk, Knopfler, Marx, dan Weiss. Banyak majalah yang bersifat bukti beruang ilmiah untuk aktivitas kuat saat ini ditampilkan dalam bidang Sejarah Gerejawi, misalnya yang "Kirchengeschichtliche Studien" (Münster), yang "Quellen und Forschungen aus dem Gebiet der Geschichte" (Paderborn), yang "Forschungen zur christlichen Literatur-und Dogmengeschichte" (Mainz dan Paderborn), yang "Veröffentlichungen aus dem kirchenhistorischen Seminar München."

Sejarawan Katolik di Perancis


Di Perancis studi Sejarah Gereja sudah lama dalam mencapai standar tinggi mencapai pada abad ketujuh belas. Dua narasi luas tampak Sejarah Gereja Universal. Bahwa Rohrbacher adalah lebih baik, "Histoire universelle de l'Église catholique" (Nancy, 1842-9). Ini menunjukkan penelitian independen kecil, tapi merupakan karya rajin dieksekusi dan penulis membuat penggunaan murah hati dan terampil yang terbaik dan terbaru literatur (ed baru. Dengan kelanjutan oleh Guillaume, Paris, 1877). Pekerjaan kedua adalah dengan Darras. Dalam beberapa tahun terakhir ilmu Sejarah Gerejawi telah membuat kemajuan besar di Perancis, baik sebagai kritik asli dan narasi ilmiah menyeluruh. Kecenderungan kritis, terangsang dan dipertahankan terutama oleh Louis Duchesne, terus berkembang dan mengilhami karya-karya yang sangat penting, terutama dalam Sejarah Khusus Gereja. Di antara tulisan-tulisan yang Duchesne "Histoire ancienne de l'Église" (2 jilid, telah diterbitkan, Paris, 1906 -.) Layak menyebutkan tertentu. Publikasi lain yang penting adalah "Bibliothèque de l'enseignement de l'histoire ecclésiastique" serangkaian monograf oleh penulis yang berbeda, dari yang empat belas volume sejauh ini muncul (Paris, 1896 -) dan beberapa telah melalui beberapa edisi. Sebuah panduan yang sangat berguna adalah Marion "Histoire de l'Église" (Paris, 1906).

Sejarawan Katolik di Belgia


Belgia, rumah dari Bollandists dan kursi kerja besar dari "Acta Sanctorum", pantas mendapat kredit khusus bagi semangat yang benar-benar ilmiah yang menyatakan bahwa pekerjaan mulia dilakukan. Bollandist de Smedt menulis sangat baik "Introductio generalis dalam Historia ecclesiastica critica tractandam" (Louvain, 1876). Manual dari sebuah Sejarah Gereja, diterbitkan oleh Wouters ("Compendium versi. Pengkhotbah.", 3 jilid., Louvain, 1874), yang juga menulis "Dissertationes di selecta kapita versi. Eccl." (6 jilid. Louvain, 1868-1872). Jungmann terikat dengan sejarah Gereja Universal sampai akhir abad kedelapan belas dalam bukunya "Dissertationes selectæ di Historiam Gerejawi". Karakter yang serius studi ecclesiastico-historis di Louvain paling terlihat dalam "Revue d'histoire ecclésiastique" diedit oleh Cauchie dan Ladeuze.

Sejarawan Katolik di Italia


Beberapa manual yang baik telah muncul di Italia, bukti awal studi serius dalam Sejarah Gereja, misalnya Delsignore, "histor Institutiones Eccles..", diedit oleh Tissani (4 jilid, Roma, 1837-1846.); Palma, "Prælectiones versi. Eccl." (. 4 jilid, Roma, 1838-1846); Prezziner, Storia della Chiesa (9 jilid, Florence, 1822 -.); Ign. Mozzoni, "Prolegomena alla storia della chiesa Universale" (Florence, 1861), dan "Tavola chronologische critiche della storia della chiesa Universale" (Venice 1856 -). Balan diterbitkan sebagai kelanjutan dari Rohrbachers Sejarah Gereja Universal "Storia della chiesa dall 'anno 1846 sino ai nostri giorni" (3 jilid., Turin, 1886). Karya khusus dari nilai besar diproduksi di berbagai departemen, di atas semua oleh Giovanni Battista de Rossi dalam Arkeologi Kristen. Namun, karya-karya terbaru tertentu pada Sejarah Gereja Universal - misalnya Amelli, "Storia della chiesa" (2 jilid, Milan, 1877.); Taglialatelá, "Lezioni di storia e Eccles di archeologia cristiana." (4 jilid, Naples, 1897.); Pighi, "Inst versi Eccl...", I (Verona, 1901) - tidak datang sampai ke standar ini, pada setiap tingkat, dari sudut pandang pengobatan metodis dan kritis.

Sejarawan Katolik di Spanyol


Sejarah Gerejawi Spanyol terinspirasi dua karya besar, satu per Villanueva ("Viage Literario a las iglesias de España", Madrid, 1803-21, 1850-2), yang lain dengan de la Fuente ("Historia de España ecclesiastica", 2nd ed., 2 jilid., Madrid, 1873-5). Dalam bidang sejarah umum, hanya Amat "Historia ecclesiastica o Tratado de la Iglesia de Jesu Christo" (.. 12 jilid, Madrid, 1793-1803, 2nd ed 1807) muncul - bukan pekerjaan yang sangat menyeluruh. Juan Manuel de Berriozobal menulis "Historia de la Iglesia en sus primos Siglos" (4 jilid., Madrid, 1867). Dominican Francisco Rivaz y Madrazo menerbitkan panduan ("Curso de historia ecclesiastica", 3 jilid., 3rd ed., Madrid, 1905).

Sejarawan Katolik di Belanda


Pertama panduan ilmiah Sejarah Gereja Katolik di Belanda, ini ditulis oleh Albers ("Handboek der Algemeene Kerkgeschiedenis", 2 jilid, Nijmegen, 1905-7;. 2nd ed, 1908.).

Sejarawan Katolik di Inggris


Di wilayah berbahasa Inggris, Sejarah Gereja Universal telah sampai sekarang, tetapi sedikit dibudidayakan; Sejarah Khusus Gerejawi di sisi lain, dapat menunjukkan banyak karya. Di antara produksi Katolik tercatat Lingard "History of England" dan "Sejarah dan Gereja Anglo-Saxon Purbakala", yang merupakan karya diandalkan acuan awal dan Abad Pertengahan Sejarah Gerejawi Inggris; "Sejarah Inggris Memoirs, Irlandia dan Skotlandia Katolik sejak Reformasi" Butler (London, 1819; dengan Milner "Tambahan Memoirs", ibid, 1820.); Flanagan "History of the Church of England" (2 jilid, London, 1850.); Reeve "Pendek View of the History of the Church". Periode pasca-Reformasi diperlakukan Dodd, "Sejarah Gereja Inggris, 1500-1688" (ed. Tierney, 5 jilid., London, 1839). Karya berguna lainnya adalah Zillow ini "Bibliografi Kamus Bahasa Inggris Katolik sejak Reformasi", Sekutu '"Pembentukan Christendom", Digby itu "Mores Catholici, atau Abad Iman" (qv).

Sejarawan Katolik di Skotlandia


Suatu pesan umum singkat Katolik, tentang Sejarah Gereja di Skotlandia adalah T. Walsh, "Sejarah Gereja Katolik di Skotlandia" (1876). Sebuah sejarah yang sangat baik adalah dari Canon Bellesheim, dengan bibliografi sangat penuh, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Dam Hunter-Blair, "Sejarah Gereja Katolik di Skotlandia" (4 jilid., London, 1887, sqq.). Pekerjaan non-Katolik yang paling kuat adalah Calderwood "Sejarah Kirk" (8 jilid., Edinburgh, 1842).

Sejarawan Katolik di Irlandia


Berbagai sejarah sipil Irlandia berlimpah dalam bahan Sejarah Gerejanya. Pertama pekerjaan Katolik yang serius tentang Sejarah Gerejawi umum Irlandia adalah dari Lanigan, "Ecclesiastical History of Ireland" (4 jilid., Ed 2., Dublin, 1829), hanya mencapai ke awal abad ketiga belas. Sebuah karya volume tunggal adalah Fransiskan Brenan, "Ecclesiastical History of Ireland" (Dublin, 1864). Karya-karya penting yang berhubungan dengan jaman tertentu dan aspek sejarah Irlandia: Haddan dan Stubbs, "Dewan dan Eccl Dokumen yang berkaitan dengan Britania Raya dan Irlandia." (Non-Katolik, London, 1873); W. Mazière-Brady, "The Episcopal Suksesi di Inggris, Skotlandia dan Irlandia, 1400-1873" (Roma, 1876); Ware dan Harris, "History of the Bishops, Antiquities, dan Penulis Irlandia" (non-Katolik, 3 jilid, Dublin, 1739-1845.); Malone, "Sejarah Gereja Irlandia dari Anglo-Norman Reformasi Invasion" (Dublin, 1882); O'Hanlon tentang "Lives of the Saints Irlandia"; Killen, "Ecclesiastical History of Ireland" (Presbyterian, London, 1875). Rekening Katolik yang baik dari Gereja Irlandia awal adalah dari Greith (Freiburg, 1867), Moran (Dublin, 1864), Gargan (ibid., 1864), Salmon (ibid, 1900). Pandangan Protestan yang ditetapkan oleh Stokes, "Irlandia dan Gereja Celtic ke 1172" (London, 1886), Loofs (1882), dan Zimmer (1907). Untuk kepustakaan yang baik dari Sejarah Gereja Irlandia melihat Bellesheim, "Gesch der kathol Kirche di Irland.." (3 jilid, Mains, 1890 -.).

Sejarawan Katolik di Amerika Serikat


Tidak ada sejarah umum yang memuaskan dari Gereja di Amerika Serikat, belum muncul. Sebuah karya dokumenter sangat pelajari adalah dari John Gilmary Shea, "Sejarah Gereja Katolik di Amerika Serikat" (4 jilid., New York, 1886). O'Gorman, "A History of Gereja Katolik Roma di Amerika Serikat" (New York, 1895), berisi daftar pustaka yang berguna.
Untuk Australia lihat Cardinal Moran "Sejarah Gereja Katolik di Australasia" (Sydney, 1896).

Sejarawan Protestan


Di antara Protestan, Sejarah Gereja dibudidayakan terutama oleh Lutheran-Jerman; karya-karya mereka datang untuk menjadi otoritatif di kalangan non-Katolik. Planck, yang penting pertama sejarawan gereja Protestan abad kesembilan belas, menunjukan pengaruh rasionalisme masa sebelumnya, tetapi menunjukan juga lebih solid dan sentimen yang lebih baik; Kristen dalam karya-karya khusus tentang sejarah teologi Protestan dan dalam bukunya yang penting "Geschichte der christlichkirchlichen Gesellschaftsverfassung "(5 jilid., Hanover, 1803-9). Neander unggul dalam bakat dan pengetahuan dan terlebih lagi mempertahankan kepercayaan rohani. "Allgemeine Geschichte der christlichen Agama und Kirche" (. 5 jilid, Hamburg, 1825-1845) sampai ke akhir abad ketiga belas; setelah kematiannya volume keenam (kepada Dewan Basle) ditambahkan (1852). Ia juga menulis sejarah Jaman Apostolik, "Geschichte der Pflanzung und der Leitung christlichen Kirche durch die Apostel" (2 jilid, Hamburg, 1832 -.). Untuk sekolahnya milik Guericke ("Handbuch der Kirchengeschichte", Halle, 1833;. 9th ed, Leipzig, 1865 -), Jacobi ("Lehrbuch der Kirchengeschichte", Berlin, 1850), Schaff ("Geschichte der alten Kirche", Leipzig, 1867), Niedner ("Gesch. der Christl. Kirche", Leipzig, 1846). Mereka Lutheran ketat, namun sebuah metode yang berbeda diikuti oleh Dante ("Lehrbuch der Kirchengeschichte", 2 jilid, Jena, 1818-1826.); teks singkat dan kental, tetapi diperkaya dengan kutipan panjang dari sumber. Sebuah rencana yang sama diikuti oleh Gieseler ("Lehrbuch der Kirchengeschichte", 5 jilid, Bonn, 1824-1857;. Volume keenam ditambahkan oleh Redepenning dari naskah penulis). Manual lainnya ditulis oleh Engelhardt (3 jilid., Erlangen, 1832, dengan volume sumber, 1834) dan Kurtz ("Lehrbuch der Kirchengeschichte", Mitau, 1849). Lindner itu "Lehrbuch der Kirchengeschichte" (. 3 jilid, Leipzig, 1848-1854) secara ketat Lutheran kurang bias adalah Hasse ("Kirchengeschichte", 3 bagian, Leipzig, 1864) dan Herzog ("Abriss der gesammten Kirchengeschichte", 3 jilid., Erlangen, 1876, persegi). Hase yang "Lehrbuch der Kirchengeschichte" dan "Kirchengeschichte" moderat dalam pandangan, meskipun terus terang anti-Katolik. Diksi elegan dan karakter-sketsa halus ditarik.
Sekolah Protestan lain yang lebih bersimpati dengan pandangan rasionalistik Semler. Para penulis ini adalah Hegelian dalam emosi semangat dan berusaha untuk melucuti Kristen berkarakter rohani. Pemimpin pertama adalah apa yang disebut "Sekolah Neo-Tübingen" di bawah Johann Christian Baur, yang tulisan-tulisannya ecclesiastico-sejarah secara langsung anti-Kristen: "Das Christentum und die Kirche der drei ersten Jahrhunderte" (Tübingen, 1853); "Die Christliche Kirche vom 4 bis zum 6 Jahrhundert.." (Ibid., 1859); "Die Christliche Kirche des Mittelalters" (ibid., 1860); "Die Zeit Neuere" (ibid., 1861-3); "Das neunzehnte Jahrhundert" (ibid., 1863-1873). Dirinya, Baur dan penganut rasionalisnya, Schwegler, Ritschl, Rothe, menulis juga karya khusus mengenai Asal-Usul Gereja. "Allgemeine Kirchengeschichte" dari Gfrörer (7 bagian, Stuttgart, 1841), yang ditulis sebelum pertobatannya, adalah produk dari semangat ini. Meskipun terus-menerus diserang, sekolah ini yang kepala perwakilannya hidup adalah Adolf Harnack, mendominasi di Protestan-Jerman. Moeller, dalam bukunya "Lehrbuch der Kirchengeschichte" mampu menulis dengan moderasi; sama Müller; belum selesai, "Kirchengeschichte" (Tübingen, 1892, sqq.).
Pada abad kesembilan belas juga Reformed (lihat di atas) yang dihasilkan kurang di provinsi sejarah gereja umum dari Lutheran. Di antara para penulis Jerman harus dinamai: Thym, "Historische Entwicklung der Schicksäle der Kirche Christi" (2 jilid, Berlin, 1800 -.); Munscher, "Lehrbuch der Christl Kirchengeschichte." (Marburg, 1801); Ebrard, "Handbuch der Kirchen-und Dogmengeschichte" (4 jilid, Erlangen, 1865 -.); yang paling penting dari sejarah gereja Reformed adalah Hagenbach, "Kirchengeschichte" yang beriklim dalam kritiknya terhadap Katolik Abad Pertengahan. Di antara sejarawan Gereja Reformed-Perancis harus disebutkan: Matter, "Histoire du Christianisme et de la société chrétienne" (4 jilid, Strasburg, 1829.); Potter "Histoire du Christianisme" (8 jilid, Paris, 1856.); Et. Chastel, "Histoire du Christianisme depuis anak origine jusqu'à nos jours" (5 jilid, Paris, 1881-3.); Pressense, "Histoire des trois perdana menteri siècles"; d'Aubigné, "Histoire de la reformasi du 16me siècle" (Paris, 1831 -). Holland diproduksi: Hofstede de Groot, "Institutiones histor Eccles.." (Groningen, 1835); Royaards, "Compendium versi. Eccl. Kristus." (Utrecht, 1841-1845).
Di masa lalu, Inggris, Skotlandia dan Amerika Utara telah dibudidayakan untuk bidang-bidang khusus sebagian, terutama periode Kristen awal dan Sejarah Gerejawi negara tertentu. Sejarah Gerejawi yang paling penting Inggris, umum sampai sekarang diproduksi oleh teolog Anglikan, yang diedit oleh W. Stephens dan W. berburu - "A History of the Church bahasa Inggris" oleh berbagai penulis (Hunt, Stephens, Capes, Gairdner, Hutton, Overton), yang sepuluh volume telah (1910) muncul. Sebuah sejarah lengkap dari periode sejak Reformasi adalah bahwa dari Dixon, "History of the Church of England sejak 1529" (5 jilid., 1878-1902). Dalam bukunya "Lollardy dan Reformasi di Inggris" (2 jilid., London, 1908), Dr James Gairdner memberikan account mampu dan berimbang tentang asal-usul dari Reformasi di Inggris. Sebuah karya yang sangat berguna adalah "Kamus Biografi Christian, Sastra, Sekte dan Doktrin selama delapan abad pertama", diedit oleh. William Smith dan H. Wace (4 jilid, London, 1879 -.). Kita mungkin juga menyebutkan "Sejarah Gereja Kristen" oleh Canon James Robertson dari Canterbury sampai 1517; "Sejarah Gereja" C. Wordsworth (4 jilid., London, 1885) dan "Sejarah Gereja Kristen" oleh Schaff (6 jilid., New York, 1882-1909). Sejarah Protestan lainnya adalah: Archdeacon Hardwick ini "Sejarah Gereja Kristen, Middle Age" (3rd ed oleh Stubbs, London, 1872.). Dan "Reformasi" (3rd ed oleh Stubbs, London, 1873.); Perancis "Lectures on Medieval History Church" (London, 1877); Milman itu "Sejarah Kekristenan Latin ke Nicholas V, 1455" (revisi ed, London, 1866.); Philip Smith "Sejarah Gereja Kristen sampai akhir Abad Pertengahan" (New York, 1885); George P. Fisher "Sejarah Gereja Kristen" (New York, 1887). Adil dan tidak memihak dalam banyak hal adalah Wakeman itu "Pengantar Sejarah Gereja Inggris" (3rd ed., London, 1907). Untuk ini mungkin ditambahkan terjemahan James Murdock tentang Mosheim yang "Institutes" (New York, 1854), dan terjemahan Henry B. Smith Gieseler itu "History of the Church" (New York, 1857-1880). Untuk sumber sejarah gereja Inggris pada umumnya melihat Gross, "The Sources of English History to 1489" (New York, 1900) dan Gardiner-Mullinger, "Pengantar Studi Sejarah Inggris" (London, 1903 ).

Sejarawan Ortodoks Yunani


Dalam beberapa waktu diakhir, penulis Yunani Ortodoks menerbitkan dua karya, menunjukan tumbuh minat pada Sejarah Gereja Universal: (2 jilid Athens, 1882) Historia Ecclesiastica oleh Diomedes Kyriakus dan Ecclesiastica historia apo Iesou Christou mechri ton kath Hemas chronon oleh Philaretes Bapheides (Konstantinopel, 1884 -).



Sumber


FREEMAN, The Methods of Historical Study (London, 1886); BERNHEIM, Lehrbuch der historischen Methods (3rd ed., Leipzig, 1903); MEISTER in Grundriss der Geschichtswissenschaft, vol. I, pt. I (Leipzig, 1906); DR SMEDT, Principes de la critique historique (Liege, 1883); LANGLOIS AND SEIGNOBOS, Introduction aux études historiques (3rd ed., Paris, 1905); KNÖPFLER, Wert und Bedeutung des Studium der Kirchengeschichte (Munich, 1894; cf. also SCHRÖRS, Hist. Jahrb., 1894, pp. 133-145); EHRHARD, Stellung und Aufgabe der Kirchengeschichte in der Gegenwart (Stuttgart, 1898); DE SMEDT, Introductio generalis ad historiam ecclesiasticam critice tractandam (Ghent, 1876); NIRSCHL, Propädeutik der Kirchengeschichte (Mainz, 1888); KIHN, Enzyklopädie und Methodologie der Theologie (Freiburg, im Br., 1892); HAGENBACH, Enzyclopädie und Methodologie der theologischen Wissenschaften (12th ed., Leipzig, 1889); HURTER, Nomenclator literarius theologiæ catholicæ (3rd ed., Innsbruck, 1903-); HERGENRÖTHER, Handbuch der allgemeinen Kirchengeschichte, I (4th ed. by KIRSCH, Freiburg im Br., 1902), Introduction; DELEHAYE, Les légendes hagiographiques (2nd ed., Paris, 1906); FONCK, Wissenschaftliches Arbeiten. Beiträge zur Methodik des akademischen Studiums (Innsbruck, 1908); NEW ADVENT.
franstenggara@gmail.com
didedikasikan untuk Bunda kami
Copyright © 2014